Minggu, 02 Desember 2018

Prabowo Bertopi Tauhid di Reuni 212- Zulkifli Hasan: "Alumni 212" Pelopor Pemilu Damai

https: img.okeinfo.net content 2018 12 02 338 1985797 polisi-pastikan-reuni-aksi-212-berlangsung-kondusif-nCAksA9ZOY.jpg
Reuni Aksi 212 di Monas, Jakarta (Foto: Heru Haryono/ Okezone)
JAKARTA - Polda Metro Jaya memastikan kondisi keamanan Reuni Akbar Alumni 212 di Monas, Jakarta berjalan kondusif. Sekira 20 ribu personel gabungan TNI-Polri dan aparatur Pemprov DKI diterjunkan.
"Sejauh ini, kondisi masih kondusif, semuanya masih tertib," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Raden Yuwono kepada Okezone di sela-sela Media Gathering Polda Metro Jaya, di Pantai Anyer, Cilegon, Banten, Minggu (2/12/2018).
Argo menjelaskan, sebanyak 20 ribu personel tim gabungan ditempatkan di beberapa titik untuk mengamankan situasi. "Kita tempatkan personel gabungan di sejumlah titik," tuturnya.
Reuni aksi 212 berlangsung sejak Minggu pagi hingga siang tadi. Massa yang hadir disinyalir mencapai ribuan orang hingga "memutihkan" kawasan silang Monas.
Sejumlah tokoh juga ikut hadiri di acara tersebut. Mulai dari Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan hingga calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto.
Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab yang tengah berada di Arab Saudi juga turut menyampaikan pesan dalam aksi tersebut. Ia meminta agar massa aksi menjaga perdamaian. Kendati, ia juga menyerukan agar 2019 ganti presiden.

Reuni Aksi 212

    (Ari)
    (Baca Juga: 

    Ketua MPR Zulkifli Hasan menghadiri Reuni Akbar Alumni 212 di Monas, Ahad (2/12).
    Ketua MPR Zulkifli Hasan menghadiri Reuni Akbar Alumni 212 di Monas, Ahad (2/12).
    Foto: Istimewa

    Zulkifli :Pemilu 2019 merupakan kompetisi yang bersahabat

    Ketua MPR Ajak "Alumni 212" 

    Jadi Pelopor Pemilu Damai

    Ahad 02 Des 2018 18:11 WIB
    Red: Bilal Ramadhan
    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua MPR Zulkifli Hasan menghadiri Reuni Akbar Alumni 212 di Monas, Ahad (2/12). Zulkifli Hasan hadir sejak dini hari mengikuti Shalat Tahajud dan Subuh berjamaah bersama jutaan peserta aksi damai.
    Dalam sambutannya, Zulkifli Hasan mengajak Alumni 212 di tahun politik ini untuk menjadi pelopor pemilu damai. "Aksi 212 ini aksi yang selalu damai, bersih, aman. Karena itu saya mengajak di alumni 212 untuk menjadi pelopor pemilu yang damai, pemilu yang menggembirakan dan pemilu yang membawa kemajuan untuk Indonesia," ungkap Ketua Umum PAN ini.
    Ia juga menyampaikan bahwa Pemilu 2019 nanti adalah kompetisi yang bersahabat atau friendly competition. "Ini kompetisi antar kita, antar sesama saudara sebangsa. Mari saling menghormati pilihan masing masing. Kampanye cerdas adu ide, visi dan gagasan. Pilihan boleh berbeda, Tapi Merah Putih kita sama," lanjutnya lagi.
    Ia berpesan agar ketertiban peserta aksi reuni 212 bisa mempelopori ketertiban pada pemilihan presiden pada 2019 mendatang. "Pemilihan presiden itu agar kita bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Karena itu semoga Alumni 212 sekali lagi bisa menjadi pelopor friendly competition. Pemilu yang hasilnya bermanfaat untuk seluruh rakyat Indonesia," tutupnya.

    Selain berolah raga, 
    Jokowi juga akan meninjau pemasangan instalasi listrik.

    Jokowi 

    Bersepeda Santai di Bogor

    Ahad 02 Des 2018 09:03 WIB
    Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Bayu Hermawan
    REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) berolahraga pagi dengan bersepeda santai pada Ahad (2/12) pagi. Jokowi telah dipastikan tidak diundang dalam acara Reuni 212 yang digelar di kawasan Monas, Jakarta Pusat
    Presiden yang tampak mengenakan jaket hitam dan perlengkapan bersepeda itupun mulai mengayuh sepedanya dari Istana Kepresidenan Bogor menuju Kelurahan Bantarjati, Kota Bogor, Jawa Barat.
    Presiden Joko Widodo pagi ini bersepeda santai dari Istana Bogor, Jawa Barat menuju Kecamatan Bantarjati, Kota Bogor, Ahad (2/12).
    Presiden Joko Widodo pagi ini bersepeda santai dari Istana Bogor, Jawa Barat menuju Kecamatan Bantarjati, Kota Bogor, Ahad (2/12).
    Foto: Dessy Suciati Saputri
    Selama perjalanan, Presiden disambut oleh masyarakat. Ia pun juga menyempatkan diri menyapa masyarakat yang hadir.  Sesampainya di Kelurahan Bantarjati, Bogor Utara, Presiden kemudian meninjau pemasangan instalasi listrik PLN. Ia juga tampak meninjau sejumlah rumah warga yang mendapatkan sambungan listrik.
    Usai meninjau pemasangan instalasi listrik, Jokowi akan melanjutkan kunjungan kerjanya ke Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor. Di sana, ia akan melakukan sosialisasi prioritas penggunaan dana desa tahun 2019 di Provinsi Jawa Barat.
    photo
    Presiden Joko Widodo pagi ini bersepeda santai dari Istana Bogor, Jawa Barat menuju Kecamatan Bantarjati, Kota Bogor, Ahad (1/12). (Dessy Suciati Saputri)
    Seperti diketahui, penyelenggara Reuni 212 batal mengundang Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk hadir pada kegiatan tersebut. Ketua Persaudaraan Alumni 212, Slamet Maarif mengatakan, ada banyak perkembangan situasi dan juga masukan-masukan dari para ulama, termasuk dari Habib Rizieq Shihab.
    "Di rapat-rapat kemarin sempat, ketika jumpa pers kemarin juga kita menanyakan dua-duanya diundang tapi kemudian berkembang situasinya, berkembang masukannya," katanya,
    Slamet menerangkan, pertimbangan yang ada itu di antaranya, Jokowi pihaknya nilai kurang menghargai gerakan 212. Selain itu, penegakkan hukum dan keadilan yang dilakukan oleh Jokowi juga dinilai masih belum bisa dilaksanakan dengan baik. Kemudian, lanjut Slamet, kriminalisasi terhadap ulama juga belum ada penyelesaiannya hingga saat ini.
    Menurut Slamet, pertimbangan berikutnya adalah jika mengundang Jokowi, pihaknya khawatir akan banyak datang protokoler yang berdampak pada kekhuyukan kegiatan tersebut. Ia juga menuturkan, peserta Reuni 212 kebanyakan merupakan orang-orang yang merasa kecewa dengan kebijakan Jokowi selama ini. Karena itu, ia khawatir jika Jokowi diundang dan datang, nanti justru memunculkan hal-hal yang tidak diinginkan.
    sumber:https://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/18/12/02/pj3711354-tak-diundang-reuni-212-jokowi-bersepeda-santai-di-bogor
    Jokowi Lebih Pantas Hadiri Reuni Aksi 212 Ketimbang Prabowo - JPNN.COM

    Jokowi Lebih Pantas Hadiri Reuni Aksi 212 Ketimbang Prabowo

    Senin, 19 November 2018 – 15:22 WIB
    jpnn.comJAKARTA - Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kapitra Ampera menyikapi rencana dari Persaudaraan Alumni 212 yang akan mengundang Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno dalam reuni aksi 212 pada 2 Desember mendatang.
    Menurut dia, Prabowo-Sandiaga selaku calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 itu tak pantas diundang. Seharusnya, panitia mengundang Presiden Joko Widodo dan Kiai Ma’ruf Amin.
    Karena, kedua orang itu adalah alumni dari kegiatan yang digelar pada 2016 silam, sementara Prabowo-Sandiaga tak hadir dalam acara itu.
    "Itu sudah teracuni dengan kepentingan paslon. Harus dibatalkan ini acara jika bawa nama 212, karena 212 gerakan keagamaan bukan gerakan dukung Prabowo-Sandiaga," ujar Kapitra, Senin (18/11).
    Dia yang juga merupakan alumni 212 ini menegaskan, aksi bela Islam bukan milik Persaudaraan Alumni atau sekelompok ormas tertentu. Aksi itu, kata dia, sudah menjadi milik jutaan umat yang hadir .
    "Sehingga yang harus diundang dalam reuninya adalah orang-orang yang hadir. Bukan orang yang tidak hadir seperti Prabowo-Sandiaga," tegasnya.
    Kapitra menerangkan, Presiden Jokowi memiliki peran banyak dalam aksi superdamai tersebut. Di antaranya mengakomodasi segala aspirasi yang datang dari umat Islam dan membiarkan pihak kepolisian menetapkan mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama alias Ahok sebagai tersangka atas kasus penistaan agama.
    Sementara, saat itu juga banyak tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada Jokowi.
    sumber:https://www.jpnn.com/news/jokowi-lebih-pantas-hadiri-reuni-aksi-212-ketimbang-prabowo?utm_source=dable



    Novel Bamukmin: Jokowi bukan Peserta Aksi 212, tapi.. - JPNN.COM
    Habib Novel Bamukmin. Foto: dok.JPNN.com

    Jokowi bukan Peserta Aksi 212, tapi..

    Senin, 19 November 2018 – 21:21 WIB
    jpnn.comJAKARTA - Pernyataan politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kapitra Ampera yang menyebut Presiden Joko Widodo dan Kiai Ma’ruf Amin lebih pantas menghadiri Reuni Aksi Bela Islam 212, direspons oleh salah seorang juru bicara Persaudaraan Alumni (PA) 212 Novel Bamukmin.
    "Wah ngawur tuh. Kapitra itu enggak tahu karena dia juga tidak ada di Aksi Bela Islam 212, dan baru bergabung dengan kami setelah 212," kata Novel dikonfirmasi JPNN, Senin (19/11).
    Sebelumnya Kapitra mengkritik panitia Reuni Aksi 212 pada 2 Desember 2018, yang akan mengundang Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Menurut dia, calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 tak pantas diundang karena tak hadir saat aksi berlangsung.
    Seharusnya, panitia mengundang Presiden Joko Widodo dan Kiai Ma’ruf Amin yang merupakan alumni kegiatan yang digelar Desember 2016 silam.
    Nah, Novel justru mengingatkan Kapitra bahwa Aksi Bela Islam 212 dilakukan sebagai bentuk protes karena Basuki T Purnama alias Ahok, sebagai pelaku penistaan agama waktu itu tidak ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan.
    "Justru pemerintah yang telah membela penista agama itu. Jokowi hadir bersama wapresnya adalah untuk mendengar aspirasi umat, bukan bagian ikut aksi di acara tersebut," jelas Novel.
    Namun demikian, pihaknya tidak mempersoalkan andai saat Reuni Aksi 212 mendatang, Kapitra maupun Jokowi ikut aksi bersama alumni 212 di Monas. "Silakan kalau mereka mau datang," tandas Novel. (fat/jpnn)
    sumber: 
    https://www.jpnn.com/news/novel-bamukmin-jokowi-bukan-peserta-aksi-212-tapi?utm_source=dable

    Prabowo Bertopi Tauhid di Reuni 212


    VIVA – Ketua Umum Partai Gerindra yang juga calon presiden nomor 02, Prabowo Subianto terlihat hadir di panggung utama dalam aksi reuni akbar 212 di Lapangan Monas, Jakarta Pusat, Minggu 2 Desember 2018
    image_title
    Photo :
    • ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
    Calon Presiden nomer urut 02 Prabowo Subianto (tengah) mengenakan topi dari Komandan Jenderal Kopassandi Abdul Rasyid Abdullah Syafii (kanan) pada deklarasi dukungan Komando Ulama Pemenangan Prabowo-Sandi (Koppasandi) di Jakarta
    Pantauan VIVA, Prabowo terlihat menggunakan kemeja putih dengan topi bertuliskan lafaz tauhid di kepalanya. Usai Prabowo tiba di panggung utama, para peserta kemudian menyanyikan Indonesia Raya.

    Selain itu, hadir pula Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan menggunakan seragam gubernur dan berpeci hitam.
    Tampak pula politisi partai Gerindra Ahmad Dhani yang menggunakan beskap hitam dengan blangkon khas Jawa. 
    Acara yang bertujuan menjadi pemersatu umat Islam di Indonesia tersebut dipandu oleh Habib Haikal dan Politisi PAN Dedi Gumelar atau Miing. (ren)

    Prabowo Bertopi Tauhid di Reuni 212, Indonesia Raya Berkumandang



    VIVA – Massa umat Islam ramai-ramai mendatangi lokasi reuni akbar 212 di Lapangan Monas, Jakarta Pusat, Minggu 2 Desember 2018. Terlihat sejumlah tokoh menghadiri acara tersebut seperti Prabowo Subianto, Amien Rais dan Hidayat Nur Wahid.
    Tepat pada pukul 07.42 WIB para peserta reuni akbar 212 menyanyikan lagu Indonesia Raya, sesaat setelah Ketua Umum Gerindra Prabawo Subianto yang juga Calon Presiden nomor 02 menaiki panggung utama.

    Dalam acara tersebut tampak Ustaz Haikal Hasan dan mantan Politisi PDI Perjuangan Dedi Gumelar yang basa dipanggil Miing menandu acara. Nampak pula di atas panggung Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan seragam gubernurnya, Ketum PAN Zulkifli Hasan dan Ahmad Dhani yang mengenakan blangkon dan beskep hitam
    Usai, menyanyikan lagu, peserta kemudian melanjutkan pembacaan khalam ilahi yang dipandu oleh ustaz Maman Abdurahman.
    image_title
    Kemudian, karena penuhnya panggung utama oleh sejumlah orang, panitia sempat meminta para petugas keamanan dan sejumlah orang yang tidak berkepentingan turun dari panggung. Dan yang tidak memiliki ID Card tidak diperbolehkan naik panggung.
    VIVA – Ratusan ton sampah terkumpul dari kegiatan reuni alumni 212 yang digelar di kawasan Monumen Nasional, Jakarta Pusat, Minggu, 2 Desember 2018. Meski massa lebih banyak dibanding tahun baru, tapi jumlah sampah lebih sedikit.
    "Diperkirakan tadi ada 200 ton sampah yang berhasil dibersihkan," ujar Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan di Monas, Jakarta Pusat. 

    Anies menuturkan, bahwa jumlah sampah yang terkumpul saat ini jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kegiatan pergantian malam tahun baru awal tahun ini.
    "Ini lebih kecil daripada kalau malam Tahun baru. Jumlah massanya mungkin lebih banyak dari tahun baru tapi sampahnya lebih sedikit," ujarnya.
    Mantan Rektor Universitas Paramadina Jakarta itu menambahkan, ada 1080 petugas yang bekerja membersihkan sampah pada sore ini  dan  semuanya sudah terbungkus bersih, tinggal diangkat saja.
    image_title
    Photo :
    • ANTARA FOTO/Galih Pradipta
    Umat muslim mengikuti aksi reuni 212 di Bunderan Hotel Indonesia, Jakarta



    Sulit Disangkal, Reuni 212 Memang Aksi Politis - JPNN.COM


    Sulit Disangkal, Reuni 212 Memang Aksi Politis

    Sabtu, 01 Desember 2018 – 19:51 WIB
    jpnn.comJAKARTA - Pengamat politik Ujang Komarudin menilai seruan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman, agar kader partainya hadir pada Reuni 212, menguatkan dugaan bahwa kegiatan yang bakal digelar di Monas itu bermuatan politis.
    "Saya kira dugaan-dugaan tersebut (reuni bermuatan politis) sulit untuk dihilangkan. Apalagi kalau sampai menghadirkan kader partai," ujar Ujang kepada JPNN, Sabtu (1/12).
    Direktur Eksekutif Indonesia Political Review ini juga menyebut, alasan waktu pelaksanaan memperkuat opini kegiatan yang digelar alumni 212 bermuatan politis.
    "Sekarang ini kan tahun politik, jadi sulit untuk tidak mengaitkannya dengan kepentingan politik," ucapnya.
    Apalagi, kata pengajar di Universitas Al Azhar Indonesia ini kemudian, sejumlah petinggi alumni 212 diketahui bergabung dalam Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan calon presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Salahudin Uno.
    Antara lain, Ketua Presidium Alumni Aksi Bela Islam 212 Slamet Maarif, menjabat Wakil Ketua BPN. Kemudian, anggota Dewan Penasehat Koperasi Syariah 212 Abdul Rasyid Abdullah Syafi'i, menjabat Wakil Ketua Dewan Penasihat BPN.
    Nama lain, Ketua Umum GNPF-Ulama Yusuf Muhammad Martak, menempati posisi anggota Dewan Pengarah BPN.
    Sebelumnya, Presiden PKS Sohibul Iman menyerukan agar kader partainya hadir pada acara reuni 212. Sohibul mengatakan hal tersebut di kantor Dewan Pimpinan Tingkat Pusat (DPTP) PKS, Jakarta, Selasa (28/11).
    "Sesuai keputusan DPTP, kader PKS diminta hadir menyukseskan reuni 212. Tapi diminta tidak menggunakan atribut partai dalam bentuk apa pun demi menjaga kebersamaan dan menghindari tuduhan yang tidak perlu yang akan merusak tujuan acara," kata Sohibul.(gir/jpnn)
    sumber:https://www.jpnn.com/news/sulit-disangkal-reuni-212-memang-aksi-politis

    Sabtu, 01 Desember 2018

    Presiden AS ke-41, George HW Bush Meninggal Usia 94 tahun




    George HW Bush in 2012
    Reuters: George HW Bush pada tahun 2012.

    Mantan Presiden AS George HW Bush telah meninggal pada usia 94 tahun, diumumkan oleh putranya George W Bush.
    George Bush Sr, sebagaimana ia dikenal, meninggal pada Jumat malam, seperti dikatakan dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pihak keluarga.
    Dia adalah presiden AS ke-41 yang menjabat anatar tahun 1989 hingga 1993, setelah menjalani dua periode sebagai wakil presiden untuk Ronald Reagan.Meskipun popularitasnya mencapai 90%, ia dituduh mengabaikan urusan domestik dan dikalahkan oleh Bill Clinton pada pemilu 1992.
    Dia adalah seorang penerbang dalam Perang Dunia II dan taipan minyak Texas sebelum memasuki politik pada tahun 1964 sebagai seorang Republikan.
    Pada bulan April, dia dirawat di unit perawatan intensif rumah sakit akibat infeksi, seminggu setelah kematian istrinya, Barbara.


    Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul George Bush Senior meninggal dunia pada usia 94 tahun, http://www.tribunnews.com/internasional/2018/12/01/george-bush-senior-meninggal-dunia-pada-usia-94-tahun.

    Sabtu, 24 November 2018

    PEMBICARAAN TENTANG TUHAN DI ISTANBUL - KISAH WARTAWAN YANG DIBANTAI SECARA "SADIS"




    Khashoggi dan Pembicaraan tentang Tuhan di Istanbul

    Ahad 09 Des 2018 07:47 WIB
    Red: Elba Damhuri
    REPUBLIKA.CO.ID 
    Oleh: Agus Khudlori
    Alumni Universitas al-Azhar Mesir/Direktur Andalusia Publisher Jakarta 
    Kasus tewasnya wartawan kritis Arab Saudi, Jamal Khashoggi, yang dieksekusi “dead squad” di dalam gedung Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, mengingatkan saya saat berkunjung ke negara itu pada 24 Juli lalu. Saya teringat perbincangan hangat dengan salah seorang warga Turki di salah satu sudut kota Istanbul.
    Ilustrasi Jamal Khashoggi
    Namanya Vedat Polat. Seorang warga Turki dari etnis Kurdi. Dia pelayan Million Restaurant & Cafe di kompleks Masjid Sultan Ahmed (Blue Mosque) dan Aya Sofia.
    Dibanding beberapa pelayan lain di restoran itu, Vedat adalah yang paling komunikatif, humoris, dan menyenangkan. Ditambah, dia pula yang tampaknya paling jago berbahasa Inggris.
    Usai melaksanakan shalat Ashar di Masjid Sultan Ahmed, saya mampir ke restoran itu bersama Ustaz Dodi. Setelah memesan secangkir cay (teh), airan (sejenis yoghurt), baklava dan nasi daging, kami mengajak Vedat berbincang santai.
    Dia pun sangat antusias meladeni obrolan kami di sela-sela menjalankan tugasnya melayani pelanggan. Rupanya, pria 28 tahun ini pernah berkunjung ke Indonesia. Alasan itulah akhirnya kami akrab berbincang dengannya.
    Sorry to say. Tapi Jakarta adalah kota yang kotor. Padahal itu Ibu Kota kalian,” katanya dalam bahasa Inggris.
    Kami hanya mengangguk-angguk mendengar itu. Memang, jika dibandingkan dengan Istanbul, Jakarta kalah jauh soal ketertiban dan kebersihan. Di kota ini, jarang sekali ada sampah tergeletak di jalanan atau kendaraan yang parkir sembarangan sehingga menyebabkan kemacetan.
    Sore itu, suasana seputar area Aya Sofia sedang ramai. Para wisatawan lalu lalang di depan restoran terbuka tersebut. Vedat dengan sigap berusaha “menggoda” para pelancong yang lewat untuk mampir ke restorannya. Banyak di antaranya wisatawan Arab.
    Saat beberapa kaum wanita melintas, Vedat berusaha bersikap akrab dengan ungkapan bahasa Arab seadanya, “Habibi, silakan mampir.” Demikian kata itu selalu dia lontarkan dengan manis setiap kali wisatawan kaum Hawa melintas di depan restorannya. Orang yang disapa pun tersenyum-senyum mendengar rayuan gombalnya itu.
    Kata “habibi” berarti “sayangku” atau “cintaku” atau “kasihku” atau yang sejenis dengan itu. Di Arab sana, kata itu merupakan panggilan akrab yang biasa diucapkan oleh semua orang kepada semua orang. Tak mesti oleh seorang kekasih kepada kekasihnya.
    Ia biasa diucapkan seseorang kepada temannya, seorang bapak kepada anaknya, kakak kepada adiknya, dan sebagainya. Namun, kata “habibi” adalah panggilan bagi kaum laki-laki.
    Adapun jika yang diseru adalah kaum Hawa, maka orang Arab akan memanggilnya dengan kata “habibti.” Sebuah dialek nonformal-verbal Arab yang berasal dari bahasa formal “habibati.”
    Mengetahui bahwa Vedat menggunakan bahasa yang kurang tepat untuk menyapa calon pelanggan, maka saya pun berusaha memberitahunya. Dia segera mengubah bahasanya setelah mendengar sedikit penjelasan dari saya, tanpa sedikit pun mengurangi cara dia yang menyenangkan dalam menggaet pelanggan.
    Tiba-tiba, Ustaz Dodi yang duduk di depan saya bertanya kepada Vedat jika banyak di antara wisatawan Istanbul adalah wisatawan asal Arab Saudi, termasuk yang melintas di depan restoran tadi. Vedat membenarkannya. Ustaz yang sering bolak-balik Jakarta-Istanbul ini kemudian bercerita jika dia sering berada satu pesawat dengan rombongan wisatawan Saudi.
    Mereka, kata dia, kaum wanitanya rata-rata berpakaian gelap, lebar dan berpurdah. Namun, itu hanya terjadi selama di udara. Pemandangan itu seketika lenyap tatkala pesawat telah mendarat di Istanbul.
    “Mereka melepas semua penutup kepala dan wajahnya. Bahkan, mereka berganti pakaian seksi-seksi. Mengapa seperti itu?” tanya si Ustaz kepada Vedat.
    Ustaz Dodi menegaskan bahwa dia tidak salah lihat, sebab dia juga mengamati pasangan mereka masing-masing. Nyatanya, usai keluar dari toilet bandara, penampilan mereka berubah 180 derajat!
    Demi mendengar pertanyaan itu, jawaban Vedat sungguh di luar dugaan. Sambil meringis, dia menjawab datar, “Karena mereka pikir Tuhan tak hadir di Istanbul.”
    Sebuah jawaban yang “terlalu istimewa” untuk dilontarkan oleh seorang pelayan kafe. Singkat, padat, menohok, sekaligus menyenangkan. Sontak, kami semua terkekeh, termasuk Vedat sendiri.
    “Barangkali mereka pikir Tuhan hanya ada di Ka’bah,” saya menimpali. Kami pun kembali terkekeh.
    Saat kami pamit untuk melaksanakan shalat Magrib, kami berbasa-basi mengajaknya untuk ikut ke masjid seraya menanyakan apakah dia seorang muslim. “Sometimes,” jawabnya sambil nyengir.
    Katanya, dia kadang-kadang saja Muslim. Sebab kadang-kadang dia shalat, kadang-kadang tidak. Sambil mengangkat tangannya ala orang berdoa, dia lalu berujar kepada kami, “Jangan lupa doakan saya ya di masjid!”
    Kembali ke kasus Khashoggi. Ibarat puzzle, satu per satu serpihan misteri kasus ini mulai ditemukan. Meskipun pada awalnya pemerintah Arab Saudi berusaha menutupinya melalui pernyataan yang mencla-mencle, namun sedikit demi sedikit tabir gelap mulai tersingkap.

    Mulanya, Riyadh membantah telah menghabisi sang jurnalis dan menyatakan ia telah meninggalkan kantor konsulat tanpa lecet sedikit pun. Setelah muncul berbagai desakan dari dunia internasional dan investigasi internal pemerintah Turki, Riyadh akhirnya mengakui bahwa Khashoggi tewas akibat perkelahian di dalam gedung konsuler.
    Pengakuan “aneh” ini tak memuaskan Istanbul dan dunia internasional. Maka, muncullah laporan Istanbul yang didapat dari hasil rekaman audio maupun visual bahwa Khashoggi benar-benar tewas dieksekusi.
    Telunjuk Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan langsung menunjuk level tertinggi Saudi sebagai pemberi perintah pelenyapan Khashoggi. Maka, Riyadh pun gaduh. Apalagi, muncul pula laporan CIA yang mengklaim memiliki bukti bahwa tangan Sang Putra Mahkota, Muhammad bin Salman (MBS), berlumuran darah Khashoggi.
    Riyadh pun akhirnya terpaksa menerima tudingan Istanbul bahwa pembunuhan itu telah direncanakan. Yang terbaru, terkuak fakta bahwa jasad Khashoggi dimutilasi. Kendati demikian, sampai detik ini Saudi belum mau jujur di mana jasad tunangan Hatice Cengiz dilenyapkan dan bersikukuh bahwa MBS “bersih dari segala tuduhan.”
    Terlepas dari itu, mengapa “regu pembunuh” yang didrop dari Riyadh itu lantas berani melancarkan eksekusi terhadap sang jurnalis di Istanbul dan begitu pede aksi mereka tak akan ketahuan? Betul, mereka pede. Jika tidak, tentu mereka akan berpikir seribu kali sebelum melakukan aksi keji itu. Sebab, konsekuensi yang harus ditanggung sangatlah berat jika aksi mereka sampai terbongkar.
    Minimal, mereka harus menghadapi regu pancung, baik karena dianggap mempermalukan negara maupun karena qishash: mata dibalas mata, tangan dibalas tangan, nyawa dibalas nyawa. Tapi toh mereka tetap menjalankan misi jahat itu. Apa sebab?
    Jawabannya bisa jadi seperti diungkapkan Vedat Polat: karena mereka pikir Tuhan tak hadir di Istanbul. Dia hanya hadir di Saudi, tempat bernaungnya dua Tanah Suci, Mekah dan Madinah. Di luar itu, kejahatan-kejahatan boleh saja dilakukan tanpa khawatir akan murka Tuhan.
    Maka tak heran, segera setelah misi melenyapkan Khashoggi berhasilkan dijalankan, para algojo itu bersenang-senang. Sayangnya mereka lupa, meski tak hadir, Tuhan mengutus para “malaikat”-Nya di sekitar lokasi mereka menumpahkan darah Khashoggi. Malaikat itu senantiasa mengintai setiap gerak-gerik mereka.
    Malaikat itu bahkan mengetahui penyamaran salah seorang algojo yang memakai pakaian Khashoggi usai menghilangkan nyawanya, namun lupa mengganti sepatu. Ia juga mendengar percakapan seorang dokter forensik yang diduga sebagai “jagal” bagi jurnalis 59 tahun itu, yang mengatakan bahwa dia melakukan tugas itu sambil mendengarkan musik. Allah yarham Jamal Khashoggi!
    sumber:
    https://republika.co.id/berita/kolom/wacana/18/12/09/pjg27c440-khashoggi-dan-pembicaraan-tentang-tuhan-di-istanbul


    Sabtu, 10 November 2018

    Kisah Partai PBB...dan Hoaks; Rahasia Persatuan Pahlawan Kemerdekaan Indonesia 10 November 2018







    Gaet Yusril, pilihan realistis Jokowi di tengah arus deras politik identitas?

    • 7 November 2018
    Yusril Izha MahendraHak atas fotoGETTY IMAGES
    Image captionYusril mengklaim keputusannya menjadi advokat Jokowi pada pilpres 2019 tak berkaitan dengan statusnya sebagai politikus.
    Yusril Izha Mahendra, politikus senior Partai Bulan Bintang (PBB) sekaligus advokat senior, menyebrang ke kubu Joko Widodo usai membela Prabowo Subianto pada sengketa pemilihan presiden 2014.
    Keputusan Yusril dinilai melengkapi representasi kelompok Islam di kubu Jokowi, meski Yusril mengklaim hanya akan mengurus persoalan hukum, bukan menggalang kekuatan politik bagi capres nomor urut satu itu.
    "Saya ketua partai tapi pernah dipercaya menangani perkara partai lain, PPP dan Golkar, bersikap objektif, melepaskan pandangan politik dan menyelesaikan perkara sesuai hukum."
    "Hal yang sama juga akan terjadi dalam hubungan saya dan Jokowi saat ini," kata Yusril kepada BBC News Indonesia, melalui sambungan telepon, Selasa (06/11)
    PBB, partai yang didirikan Yusril tahun 1998 berasaskan Islam. Adapun, Yusril pernah aktif di Muhammadiyah dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia.
    Belakangan Yusril mewakili Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di pengadilan, menggugat keputusan pemerintah membubarkan organisasi tersebut.
    "Selama ini banyak kritik kepada pemerintah yang dianggap jauh dari Islam, mungkin perlahan itu akan berubah," kata Yusril memprediksi efek keputusannya menjadi pengacara Jokowi.
    HTIHak atas fotoGETTY IMAGES
    Image captionMeski membela HTI di pengadilan, Yusril menyebut dirinya tak berkaitan sama sekali dengan paham maupun agenda organisasi itu.
    Bagaimanapun, merapatnya Yusril ke tim Jokowi dianggap konsekuensi politik identitas yang lebih dominan dibandingkan adu visi dalam ajang pilpres tahun depan.
    Menurut Wakil Direktur Eksekutif Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia, Hurriyah, sikap Yusril satu bagian dengan bergabungnya Maruf Amin dan Ali Mochtar Ngabalin dengan Jokowi.
    Maruf, duet Jokowi di pilpres 2019, merupakan Ketua Majelis Ulama Indonesia sekaligus menjabat Rois Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
    Sementara itu, Ngabalin pernah berkecimpung di sejumlah organisasi berbasis Islam, salah satunya Badan Koordinasi Muballigh Indonesia.
    "Tantangan dan kelemahan terbesar Jokowi sebagai petahana sebenarnya apakah dia benar-benar sudah menjalankan janji-janji kampanyenya."
    "Tapi sayangnya lawannya berkutat pada isu identitas, jadi itu saja yang ia redam," kata Hurriyah.
    Yusril, Maruf, dan Ngabalin, menurut Hurriyah, dapat menjadi bukti kedekatan Jokowi dengan kalangan Islam. Citra yang disebutnya juga dibangun Jokowi melalui safari ke berbagai pesantren dengan gaya pakaian khas santri.
    Jokowi, PrabowoHak atas fotoGETTY IMAGES
    Image captionDalam beberapa jajak pendapat, mayoritas pemilih dari kalangan Islam condong memilih Jokowi dibandingkan Prabowo.
    Dalam tiga jajak pendapat tahun 2018, pemegang hak suara dari kalangan Islam cenderung memilih Jokowi ketimbang Prabowo.
    Merujuk kajian Agustus lalu, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyebut Jokowi mengungguli Prabowo di kalangan NU dan Muhammadiyah.
    Sementara itu, pemilih Islam yang condong ke Prabowo mayoritas berasal dari massa Presidium Alumni 212, kelompok yang giat berunjuk rasa menentang Basuki Tjahaja Purnama pada Pilkada DKI Jakarta 2017.
    Juli 2018, Jokowi dianggap sosok yang paling merepresentasikan Islam di Indonesia (47,9%), disusul Prabowo (30,1%).
    Temuan itu muncul pada jajak pendapat yang digelar Pusat Kajian Pembangunan dan Pengelolaan Konflik Universitas Airlangga.
    Adapaun pada survei Populi Center, Februari 2018, mayoritas suara responden dari NU, Muhammadiyah, dan Persatuan Islam, juga memilih Jokowi.
    Bahkan di kalangan pemilih Muslim yang tak terikat dengan ormas apapun, Jokowi meraup 57,1% suara, sedangkan Prabowo 27,3%.
    JokowiHak atas fotoANTARA FOTO/AJI STYAWAN
    Image captionJokowi pernah mengklaim secara rutin berkunjung ke pesantren di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Ponpes Al-Itqon di Semarang, Jawa Tengah, Oktober 2018.
    Walaupun Jokowi sekilas berada di atas angin, peneliti LSI, Rully Akbar, menyebut Prabowo tetap berpeluang memenangkan suara mayoritas di kalangan pemilih Muslim.
    Rully berpendapat, citra Jokowi dapat luluh jika isu seperti insiden pembakaran bendera bertuliskan tauhid membesar.
    Sementara itu, Rully menilai Prabowo akan memaksimalkan pendekatan ke pemilih Muslim tak lama sebelum pencoblosan.
    "Orang-orang di belakang Prabowo, seperti Aa Gym dan Ustaz Abdul Somad belum sepenuhnya turun," kata Rully.
    "Gerakan melalui salat subuh dan ibadah Jumat tidak dapat diprediksi karena biasanya dilakukan last minute."
    "Pemilih didekati melalui sisi yang paling sensitif, yaitu agama sehingga konstelasi bisa berubah cepat," ujar Rully..
    sumber;  https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-46110585