Kamis, 06 Oktober 2016

Dimas Kanjeng,Korbankan Nilai-nilai Agama

Klick Disini:


Foto: dokumen JPNN.Com


JAKARTA - Ketua Komisi VIII DPR RI, M Ali Taher menilai kegiatan di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi merupakan penyalahgunaan simbol-simbol agama.
Menurut dia, kejadian serupa sudah sering terjadi di banyak tempat dan selalu menggunakan simbol-simbol agama dan pendidikan.
"Setahu saya, modus penggunaan simbol-simbol agama dan pendidikan untuk kepentingan sesaat sering terjadi. Sebelum Dimas Kanjeng, kasus Gatot Brajamusti di Sukabumi, apa bedanya? Tetap saja penyakit sosial," kata Ali di gedung DPR, Senayan Jakarta, Kamis (6/10).
Dia menambahkan, mengorbankan nilai-nilai agama untuk berbagai kepentingan jangka pendek jelas tindakan yang tak benar. Karenanya ia menegaskan, hal semacam itu harus diberantas karena mencerminkan penyakit sosial.
"Jadi, tidak hanya Dimas Kanjeng, tapi siapa pun. Persoalan-persoalan itu bagian dari penyakit sosial yang harus diberantas," tegasnya.
Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu menambahkan, misi agama pasti menekankan pentingnya kejujuran, keikhlasan dan kebenaran. Sementara dalam kasus Dimas Kanjeng, yang muncul justru ketidakjujuran.
"Jika yang dikehendaki itu adalah materi, maka pasti menghalalkan segala cara. Jadi, siapa pun, termasuk jenderal, polisi, kaum intelektual, yang terlibat dalam proses penggandaan uang itu, sangat disayangkan," pungkasnya.(fas/jpnn)


Sebelum Ngetop, Dimas Kanjeng Undang Wartawan Minta Diliput  

KAMIS, 06 OKTOBER 2016 | 21:21 WIB
Sebelum Ngetop, Dimas Kanjeng Undang Wartawan Minta Diliput  
Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Ishomuddin
TEMPO.COProbolinggo - Sebelum dikenal dengan gelar Dimas Kanjeng, Taat Pribadi sejak awal ingin terkenal. Ia selalu mengklaim mempunyai kemampuan mengeluarkan uang banyak dari balik bajunya.

Ia pun sempat mengundang beberapa wartawan di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, pada 2006 untuk memperlihatkan aksinya mengeluarkan puluhan lembar uang kertas asli pecahan Rp 100 ribu.

Baca: BI Periksa Keaslian Uang Dimas Kanjeng
Pengikut Dimas Kanjeng Yakin yang Ditangkap Polisi Jelmaannya

"Sebelum dia beraksi, kami dijamu berbagai jenis makanan. Orangnya ramah,” kata salah satu wartawan media cetak lokal yang enggan disebut namanya, Kamis, 6 Oktober 2016.

Waktu itu, rumah Taat belum megah seperti sekarang serta belum punya pedepokan dan santri. “Yang menyaksikan hanya beberapa wartawan, anaknya, dan tetangga sekitar,” ucapnya.

Penampilan Taat pun masih sangat sederhana, tidak seperti sekarang dengan baju jubah kebesaran dan mahkota ala raja sebelum ditangkap polisi. “Waktu itu, hanya pakai songkok warna hitam, baju koko warna putih, dan slayer warna hitam di lehernya,” tuturnya. Badan Taat saat itu juga tak segemuk sekarang dan berkumis agak tebal.

Setelah jamuan makan selesai, Taat pun menunjukkan aksinya mengeluarkan puluhan lembar uang Rp 100 ribu. Setelah aksinya selesai, Taat berpesan kepada wartawan. “Jangan lupa ya masuk koran,” kata wartawan senior di Probolinggo dan sekitarnya ini menirukan Taat.

Sikap Taat yang ingin dikenal dan memamerkan kemampuannya itu bertolak belakang dengan pernyataan Marwah Daud Ibrahim, santri yang juga Ketua Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Menurut Marwah, Taat seorang yang rendah hati. “Beliau itu rendah hati dan sebenarnya enggak mau diambil foto atau videonya saat 'proses' serta enggak mau disebarluaskan,” kata Marwah.

“Proses” adalah istilah yang dipakai Marwah dan para santri Taat lain yang maksudnya sebuah kegiatan ketika Taat bisa sampai memunculkan barang secara tiba-tiba, termasuk uang.

Marwah tetap yakin Taat punya kemampuan memindahkan barang dari dimensi gaib ke dimensi nyata. Bahkan, menurut dia, kasus pembunuhan dan penipuan dengan modus penggandaan uang yang menimpa Taat dianggap bagian dari kriminalisasi. “Ini kriminalisasi. Kalau anak bangsa yang punya potensi seperti ini dihambat, apa jadinya negara ini,” ucapnya.

Taat, 46 tahun, disangka sebagai dalang pembunuhan dua bekas anak buahnya: Ismail Hidayah dan Abdul Gani. Selain Taat, sembilan orang lain dijadikan tersangka, yakni orang-orang kepercayaannya dan orang suruhan.

Ismail dan Gani diduga dibunuh karena khawatir membocorkan rahasia penipuan dengan modus penggandaan uang yang dilakukan Taat selama ini. Taat juga menjadi tersangka kasus penipuan dengan modus penggandaan uang dengan kerugian mencapai ratusan miliar rupiah.

ISHOMUDDIN
sumber:Tempo.co.

TEMPO.COJakarta - Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung memastikan Dimas Kanjeng Taat Pribadi bukan bagian dari pendukung Joko Widodo (Jokowi) saat pelaksanaan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014.

"Kalau ditelusuri yang jelas pada saat Pilpres yang lalu, Dimas Kanjeng bukan bagian dari pendukung Pak Jokowi sehingga enggak ada urusan dengan itu," kata Pramono Anung di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu, 5 Oktober 2016.

Simak Pula
Soal Jelmaan Malaikat, Ini Blakblakan Kubu Gatot BrajamustiGatot Brajamusti, Aspat, dan Seks 'Threesome' di Padepokan

Pramono Anung membantah isu yang beredar bahwa Dimas Kanjeng pernah datang ke Istana dan menggandakan uang. Menurut dia, klaim tersebut tidak benar dan Istana tidak ada kaitan dengan urusan penggandaan uang.

"Yang jelas itu klaim enggak benar. Enggak ada urusan Istana dengan yang begitu-begitu. Apalagi menggandakan uang, wong kita enggak percaya dengan apa yang dilakukan sehingga dengan demikian enggak benar," kata Pramono.

Namun Pramono Anung tidak membantah jika Dimas Kanjeng mungkin saja pernah datang ke Istana dan bersalaman dengan Presiden Jokowi.

Simak Pula
Muncul Petisi Tolak Ahok yang Disebut Lecehkan Ayat Al-QuranSoal Kontribusi Tambahan, Ahok Tegaskan Itu Bukan Diskresi

Sebabnya, Pramono menambahkan, selama ini banyak masyarakat yang datang ke Istana Kepresidenan dan bersalaman dengan Presiden karena Presiden Joko Widodo menerima siapapun yang datang ke Istana.

"Jika kemudian masyarakat yang datang ke Istana salaman dengan Presiden-Wapres itu pasti banyak, karena namanya Presiden menerima siapa saja," kata Pramono Anung.

ANTARANEWS.COM

Ki Kusumo. Foto: source for JPNN.com


KONSULTAN supranatural, Ki Kusumo angkat bicara soal Dimas Kanjeng Taat Pribadi, sosok yang belakangan ini sangat fenomenal.
Kasus penggandaan uang ala Dimas Kanjeng sudah menjadi berita santapan harian publik.
Pro dan kontra dari berbagai kalangan bermunculan. Salah satunya dari Ki Kusumo.
Menurut Ki Kusumo, ritual penggandaan uang sejatinya memang ada.  
“Di dunia ini selalu ada hitam dan putih, laki-laki dan wanita, siang dan malam. Penggandaan uang ada apa nggak sebenarnya, saya jawab ada. Tapi kita harus kritis, kalau ada yang asli pasti ada yang palsu. Nah yang palsu itu meniru yang asli. Kalau orang yang asli bisa menggandakan uang tidak akan berteriak-teriak memiliki kemampuan tersebut,” ujar Ki Kusumo, Kamis (6/10).
Dalam kasus Dimas Kanjeng, Ki Kusumo yang juga aktor sekaligus produser ini melihat ada yang tidak beres.
“Kalau saya melihatnya ini jalurnya penipuan. Dia (Dimas Kanjeng) memberikan harapan kepada orang lain dengan angka yang fantastis sehingga memengaruhi target untuk ikut lagi, lagi, dan lagi,” sambungnya.
Ki Kusumo menambahkan, orang yang bisa menggandakan uang harusnya punya energi penggandaan uang.
“Bicara dunia spiritual, ada namanya energi. Itu pasti. Saya lihat dari foto atau video dia, dia hanya punya energi keilmuan, bukan energi penggandaan uang,” urainya.
Karenanya, Ki Kusumo menyebut Dimas Kanjeng telah berbohong. “Nggak ada energi tadi. Itu murni penipuan,” tambahnya.
Umumnya penipuan dengan berkedok bisa menggandakan uang akan menyasar pada orang yang imannya tipis dan tidak puas terhadap sesuatu.
“Dengan kondisi seperti itu, rasa kritisnya jadi hilang. Pertimbangan secara otak, diiyakan aja. Apapun yang diminta pelaku akan diberikan,” sambung Ki Kusumo.
Soal tumpukan uang Dimas Kanjeng yang tersebar di berbagai media sosial, Ki Kusumo punya pendapat tersendiri.
Menurutnya, uang-uang tersebut murni berasal dari alam manusia, bukan dari energi dimensi lain.
Ki Kusumo menjelaskan, uang yang didapat dari penggandaan harusnya memiliki energi khusus.
“Kalau yang beredar adalah penggandaan, itu harus ada energi, dari alam mana masuk alam kita, dari dimensi mana ke dimensi kita. Dalam konteks itu ada energi pengantar," ujarnya.
Ki Kusumo meyakini, uang Dimas Kanjeng berasal dari alam manusia.
“Mendapatkan sesuatu ada perjalanannya. Tidak ada yang instan meski ada yang cepat, ada yang lama, proses tetap ada. Kalau kita bicara spiritual, uang tersebut masih dalam tanda kutip. Jadi apapun itu, uang yang ada bukan :dari dimensi gaib, tapi murni dari alam kita,” pungkasnya. (adk/jpnn)
sumber: JPNN

Klick Gambar atau Link di bawah ini.

  http://goo.gl/yXWAVb

Rabu, 05 Oktober 2016

DPR dukung undang-undang khusus tentang Antara

 | 1.983 Views

DPR dukung undang-undang khusus tentang Antara
Arief Suditomo. (dpr.go.id)
 Saya mendukung usulan mengenai perlunya undang-undang tentang Antara mengingat perannya yang strategis dalam pemberitaan untuk kepentingan negara, terlebih kantor berita ini memiliki perwakilan di semua provinsi,"

Jakarta (ANTARA Nws) - Anggota Komisi I DPR RI yang juga pernah menjadi pemimpin redaksi di beberapa stasiun televisi, Arief Suditomo menyambut baik dan mendukung usulan wartawan senior Parni Hadi mengenai perlunya undang-undang khusus tentang Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara.

"Saya mendukung usulan mengenai perlunya undang-undang tentang Antara mengingat perannya yang strategis dalam pemberitaan untuk kepentingan negara, terlebih kantor berita ini memiliki perwakilan di semua provinsi," kata Arief dalam diskusi panel dengan tema "Bagaimana Antara ke depan" di Jakarta, Rabu.

Diskusi panel yang diselenggarakan dalam rangkaian rapat kerja nasional (Rakernas) LKBN Antara itu juga menghadirkan wartawan senior yang juga Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi LKBN Antara periode 1998-2000 dan Dirut RRI periode 2005-2010 Parni Hadi serta Pemimpin Redaksi Detikcom Arifin Asydhad.

Dalam diskusi itu Parni mengusulkan perlunya undang-undang tentang Antara mengingat perjuangan dan sejarahnya yang lebih tua dibanding Republik. Kantor berita itu didirikan oleh para pemuda pejuang pada 13 Desember 1937, yaitu Adam Malik, AM Sipahoetar, Soemanang, dan Pandoe Kartawigoena.

Pada 17 Agustus 1945 Antara menyiarkan berita Proklamasi Kemerdekaan RI ke manca negara dari kantornya di Pasar Baru Jakarta Pusat, sehingga setelah itu pengakuan kemerdekaan RI datang dari berbagai negara.

Menurut Parni, mengacu kepada status kelembagaan RRI dan TVRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik, Perusahaan Umum (Perum) LKBN Antara sangat layak berubah status menjadi Lembaga Kantor Berita Nasional yang berada di bawah Presiden sebagai Kepala Negara dan dIkontrol oleh DPR RI.

Dengan status itu Antara dapat berperan sebagai Clearing House atau Rumah Klarifikasi Informasi yang mengabdi kepada kepentingan negara di atas kepentingan golongan atau kelompok tertentu.

Arief Suditomo lebih lanjut mengemukakan, undang-undang khusus tentang Antara nantinya akan menjadikan Antara sebagai lembaga kantor berita nasional tersendiri atau bergabung dengan Lembaga Penyiaran Publik (LPP) RRI dan TVRI.

"Jangan apriori terhadap perubahan, sepanjang perubahan itu bertujuan untuk kebaikan Antara dan bangsa ke depan. Komisi I DPR siap mengkaji undang-undang tentang Antara," kata anggota DPR dari Komisi I yang membidangi pertahanan, luar negeri, telekomunikasi dan informatika itu.

Pada kesempatan yang sama Pemimpin Redaksi Detikcom juga mendukung perlunya undang-undang khusus tentang Antara dengan catatan lembaga kantor berita itu tetap antisipatif terhadap perubahan, terutama perubahan atau perkembangan teknologi informasi di era konvergensi media sekarang ini.
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Klick Disini:


http://goo.gl/yXWAVb

Ini adalah akhir dari PEN-CARI-AN MU

Ini adalah akhir dari PEN-CARI-AN MU
Ingin Menambah Penghasilan, 
Ingin memiliki Bisnis Mandiri Dan 
bercita-cita Menjadi prabayar bebas finansial.
http://www.TravelTalks.co.id/yanab1181


Mahasiswa
Yang Ingin berlatih Menjadi Pengusaha, Ingin mandiri Beroperasi finansial Dan TIDAK menggantungkan mencakup biaya Dari Orang Tua.
Penganggur
Yang Saat ini tidak memiliki AKTIVITAS, namun TIDAK Ingin Waktu Yang ADA terbuang sia-sia.

Pencari Peluang
Yang Senantiasa Membuka mata Dan Telinga Terhadap peluang-Peluang Luar Biasa demi meningkatkan taraf Hidup Dan Keluarga.
















Klick link di bawah ini

http://www.TravelTalks.co.id/yanab1181




Panduan Manage Tickets


MANAGE TICKET Merupakan sebuah fasilitas khusus untuk Anda didalam berbisnis Tour & Travel khususnya dalam penjualan tiket pesawat, dimana seringkali Anda membutuhkan proses seperti berikut :

Cetak Ulang Tiket Pesawat
Cetak Ulang Invoice
Melihat detail penerbangan yang telah di cetak
Mengetahui harga jual dan modal dari tiket yang telah di cetak
Mengetahui penumpang detail dari penjualan tersebut (nama, no telepon, dll)
Catatan Penting !!!

Follow up lah para calon pembeli Anda dengan metode 7-S 1-H
Gunakan Jurus Time Limit untuk meminimalkan modal dan resiko Anda
Telitilah selalu dalam proses pemesanan tiket (Nama, Gender, periode keberangkatan, rute keberangkatan, permintaan khusus lainnya)
Pembeli adalah Raja, buat mereka terkesan!
Jangan Anda terlewat yang namanya "Time Limit" ingat Resiko di tangan Anda

Menu ini menampilkan daftar tiket yang sudah issued
Klick disini

http://www.TravelTalks.co.id/yanab1181

Selasa, 04 Oktober 2016

Akbar Faisal Ini "penipuan" !

Foto-foto Yan Abdullah 
Dari ILC TV ONE 04102016

Akbar Faisal dengan tegas menyatakan bahwa kegiatan dan Dimas Kanjeng Taat Pribadi dan anggota Padepokannya di Probolinggo, Jawa Timur, adalah "penipuan" . Sambil mengeluarkan beberapa barang bukti yang ditemukannya.
Akbar juga menggambarkan bentuk organisasi Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, yang dilindungi oleh Abah Ilyas.




Salah seorang anggota Padepokan Ny. Najmiah yang meninggal dengan jari-jari tangannya menghitam setelah meminum air yang diberikan Taat Pribadi,  Saat sakit Najmiah di jenguk Taat Pribadi di salah satu Rumah Sakit di Singapura.


Akbar Faisal memperagakan cara mengeluarkan uang yang banyak di Jubah Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Lembaran uang kertas dikeluarkan dari dalam Jubah.

Uang Mahar dan Yang diserahkan anggota Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di simpan di Bank a.n. Irwan Muin



KPK Mulai Telusuri Dugaan Gamawan Kecipratan Uang e-KTP


Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan. Foto: dokumen JPNN.Com
Selasa, 04 Oktober 2016 , 19:57:00
JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan mengusut dugaan adanya fee USD 2,5 juta dari proyek kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) ke Gamawan Fauzi saat masih menjadi menteri dalam negeri.
Dugaan tentang aliran uang proyek e-KTP ke Gamawan itu berawal dari pengakuan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat (PD) M Nazaruddin usai diperiksa KPK  sebagai saksi kasus e-KTP beberapa waktu lalu.
Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan mengatakan, informasi dari Nazaruddin itu harus dibuktikan kebenarannya.  "Kita harus konfirmasi itu dulu dan harus berdasarkan fakta-fakta," kata Basaria saat ditemui di Menteng, Jakarta, Selasa (4/10).
Karena itu, KPK segera memanggil Gamawan Fauzi untuk dimintai keterangan soal pernyataan Nazaruddin. Basaria pun menginginkan penyidikan kasus korupsi pengadaan e-KTP segera selesai.
"Lebih cepat lebih baik. Kalau penyidik kan harus punya data dan pertimbangan, tidak hanya memanggil orang kalau tidak punya kepentingan dalam pemeriksaan," pungkasnya.
Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan dua orang tersangka. Yakni mantan Dirjen Kependudukan dan Catatan Sipil Kemendagri, Irman dan anak buahnya, Sugiharto.
Keduanya diduga bersama-sama melakukan perbuatan melawan hukum dalam proyek pengadaan e-KTP yang bernilai lebih dari Rp 6 triliun. Kerugian negara dalam proyek itu diduga mencapai Rp 2 triliun.
Sugiharto dan Irman disangka melanggar Pasal 2 ayat 1 subsider Pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tipikor jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.(put/jpg)

Pak Kapolri Ketahuan Belum Punya e-KTP

JAKARTA - Langkah pemerintah menggenjot program kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) ternyata belum sepenuhnya diikuti para pejabat.
Bahkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian pun belum mengantongi e-KTP.
Hal itu terungkap dari pengakuan istri Tito, Tri Suswati Karnavian yang juga ketua Bhayangkari.
Tri menuturkan, suaminya karena terlalu sibuk sampai belum membuat e-KTP.
"Ini Pak Kapolri belum buat e-KTP, karena kesibukannya sangat padat," kata Tri saat memberikan sambutannya pada acara bakti sosial Bhayangkari di Rumah Susun Warga (Rusunawa) Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (29/9).
Tri mengaku sudah berulang kali mengagendakan suaminya untuk mengurus e-KTP di kelurahan terdekat.
Hanya saja, Tito selalu saja ada agenda mendadak sehingga tak sempat mengusur e-KTP.
"Saya sudah atur jadwal, tapi tak pernah bisa untuk membawa Pak Kapolri ke kelurahan untuk mengurus langsung e-KTP," ujarnya.
Dalam bakti sosial ini, Bhayangkari memberikan layanan pembuatan e-KTP, SIM, dan akta kelahiran secara gratis.
Kapolri Tito Karnavian juga hadir dalam acara itu dengan didampingi Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan dan Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli.
Tri bahkan sempat menyinggung suaminya untuk segera mengurus e-KTP.
"Mungkin dengan kegiatan ini, Pak Kapolri mau mengurus e-KTP. Kan repot kalau ke mana-mana nanti tidak punya E-KTP," tandas Tri.(mg4/jpnn)
===

Dapatkan blog gratis yang bisa digunakan menyiarkan 
informasi, opini dan analisa dan memajang dagangan Anda
Klick foto atau Link di bawah ini


http://goo.gl/yXWAVb

KPK Mulai Telusuri Dugaan Gamawan Kecipratan Uang e-KTP


Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan. Foto: dokumen JPNN.Com
Selasa, 04 Oktober 2016 , 19:57:00
JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan mengusut dugaan adanya fee USD 2,5 juta dari proyek kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) ke Gamawan Fauzi saat masih menjadi menteri dalam negeri.
Dugaan tentang aliran uang proyek e-KTP ke Gamawan itu berawal dari pengakuan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat (PD) M Nazaruddin usai diperiksa KPK  sebagai saksi kasus e-KTP beberapa waktu lalu.
Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan mengatakan, informasi dari Nazaruddin itu harus dibuktikan kebenarannya.  "Kita harus konfirmasi itu dulu dan harus berdasarkan fakta-fakta," kata Basaria saat ditemui di Menteng, Jakarta, Selasa (4/10).
Karena itu, KPK segera memanggil Gamawan Fauzi untuk dimintai keterangan soal pernyataan Nazaruddin. Basaria pun menginginkan penyidikan kasus korupsi pengadaan e-KTP segera selesai.
"Lebih cepat lebih baik. Kalau penyidik kan harus punya data dan pertimbangan, tidak hanya memanggil orang kalau tidak punya kepentingan dalam pemeriksaan," pungkasnya.
Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan dua orang tersangka. Yakni mantan Dirjen Kependudukan dan Catatan Sipil Kemendagri, Irman dan anak buahnya, Sugiharto.
Keduanya diduga bersama-sama melakukan perbuatan melawan hukum dalam proyek pengadaan e-KTP yang bernilai lebih dari Rp 6 triliun. Kerugian negara dalam proyek itu diduga mencapai Rp 2 triliun.
Sugiharto dan Irman disangka melanggar Pasal 2 ayat 1 subsider Pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tipikor jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.(put/jpg)

Pak Kapolri Ketahuan Belum Punya e-KTP

JAKARTA - Langkah pemerintah menggenjot program kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) ternyata belum sepenuhnya diikuti para pejabat.
Bahkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian pun belum mengantongi e-KTP.
Hal itu terungkap dari pengakuan istri Tito, Tri Suswati Karnavian yang juga ketua Bhayangkari.
Tri menuturkan, suaminya karena terlalu sibuk sampai belum membuat e-KTP.
"Ini Pak Kapolri belum buat e-KTP, karena kesibukannya sangat padat," kata Tri saat memberikan sambutannya pada acara bakti sosial Bhayangkari di Rumah Susun Warga (Rusunawa) Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (29/9).
Tri mengaku sudah berulang kali mengagendakan suaminya untuk mengurus e-KTP di kelurahan terdekat.
Hanya saja, Tito selalu saja ada agenda mendadak sehingga tak sempat mengusur e-KTP.
"Saya sudah atur jadwal, tapi tak pernah bisa untuk membawa Pak Kapolri ke kelurahan untuk mengurus langsung e-KTP," ujarnya.
Dalam bakti sosial ini, Bhayangkari memberikan layanan pembuatan e-KTP, SIM, dan akta kelahiran secara gratis.
Kapolri Tito Karnavian juga hadir dalam acara itu dengan didampingi Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan dan Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli.
Tri bahkan sempat menyinggung suaminya untuk segera mengurus e-KTP.
"Mungkin dengan kegiatan ini, Pak Kapolri mau mengurus e-KTP. Kan repot kalau ke mana-mana nanti tidak punya E-KTP," tandas Tri.(mg4/jpnn)
===

Dapatkan blog gratis yang bisa digunakan menyiarkan 
informasi, opini dan analisa dan memajang dagangan Anda
Klick foto atau Link di bawah ini


http://goo.gl/yXWAVb

Sharapova Mengambil Pelajaran dari Hukuman-nya

Sharapova Mengambil Pelajaran dari Hukuman yang Diterimanya
ALEXANDER HASSENSTEIN/GETTY IMAGES
Petenis Rusia, Maria Sharapova, mempromosikan Sugarpova di Stuttrgart, Jerman, 19 April 2014. 




Laporan Wartawan SuperBall.id, Ahmad Bil Wahid
TRIBUNNEWS.COM - Petenis cantik Rusia Maria Sharapova menyambut gembira keputusan Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) yang mengurangi masa hukumanannya. Pada Selasa (4/10/2016), CAS resmi mengurangi hukuman larangan bermain Sharapova terkaut kasus doping yang menimpanya. Tak lama setelah keputusan itu diumumkan, Sharapova langsung mengungkapkan perasaannya dalam situs pribadinya. Wanita berusia 29 tahun itu juga menuliskan curahan hatinya dalam laman Facebook. Sharapova menyebut, hari ini sebagai hari terindah dalam hidupnya. Dia juga mengatakan akan mengambil pelajaran dari hukuman ini.
Sebelumnya, CAS telah mengurangi hukuman petenis berusia 24 tahun itu dari 24 bulan menjadi 15 bulan.
Hukuman larangan tampil selama 24 bulan itu diberikan karena Sharapova terbukti mengonsumsi Meldonium.
Meldonium merupakan jenis obat terlarang untuk olahragawan.
Menyusul masa hukuman yang sudah berjalan tiga bulan, Sharapova kembali bisa tampil di lapangan pada April 2017.
Berikut curhatan lengkap Sharapova setelah CAS mengurangi masa hukumannya:
Halo Sharafamily!
Aku sudah melewati salah satu hari terberat dari karir saya Maret lalu ketika saya belajar tentang suspensi.Sekarang, salah satu hari terindah saya, karena saya tahu saya bisa kembali ke tenis pada bulan April.
Dalam banyak hal, saya merasa seperti ada sesuatu yang hilang dan saya merasa sangat senang bisa memilikinya lagi.
Tenis adalah gairah saya dan saya telah melewatkan itu. Aku menghitung hari sampai saya bisa kembali ke pengadilan.
Aku telah belajar dari ini, dan saya berharap ITF telah demikian. CAS menyimpulkan bahwa "panel telah memutuskan bahwa hukuman itu tidak sesuai dengan kesimpulan dari ITF"
Saya telah bertanggung jawab dari awal karena tidak mengetahui bahwa suplemen yang saya konsumsi sepuluh tahun terakhir itu tidak lagi diizinkan.
Tapi saya juga belajar bagaimana federasi lain memberitahukan perubaha terutama di eropa timur di mana Meldonium secara umum didapatkan oleh jutaan orang.
Sekarang proses ini berakhir, saya berharap ITF dan badan lainnya berweang lainnya belajar dari apa yang dilakukan federasi ini, sehingga tidak ada pemain tenis lainnya yang harus merasakan apa yang saya terima.
Dan untuk para penggemar saya, terima kasih banyak kebersamaan dalam beberapa bulan yang sulit.
Selama masa ini, saya telah belajar arti sebenarnya dari penggemar dan aku sangat beruntung untuk memiliki dukungan anda.
Aku akan segera kembali dan aku tidak bisa menunggu!
Cinta, Maria.(*)
========
=======
Ada blog gratis untuk Anda klick link di bawah ini
Mendaftar dan bangun blog pribadi Anda !

Minggu, 02 Oktober 2016

Dimas Kanjeng Gandakan Uang Rp 1,7 Triliun; Dua Koper Dikirim ke Marwah Daud Ibrahim “Nilainya miliaran,”

Minggu, 02 Oktober 2016 , 20:25:00
serial:Dimas Kanjeng Taat Pribadi

Dimas Kanjeng Mengaku 

Sudah Gandakan Uang Rp 1,7 Triliun 


JPNN.com SURABAYA -
Dimas Kanjeng akhirnya buka suara soal keahliannya yang bisa menggandakan uang. Meski tak mengetahui jumlah persisnya uang yang digandakan, namun Dimas Kanjeng mencoba mengingatnya. Di hadapan Anggota Komisi III, Akbar Faisal yang menyambanginya di Mapolda Jatim, Sabtu (1/10),
Dimas Kanjeng memperkirakan jumlahnya mencapai Rp 1,7 triliun. Uang tersebut disimpan sultannya (Dodi Wahyudi) yang berada di Bangil, Pasuruan, Jatim. "Uang itu khusus hasil penggandaan," katanya seperti yang dilansir Jawa Pos (Induk JPNN.com), Minggu (2/10).
 Lain lagi uang titipan dari para pengikutnya. Semua uang tersebut diserahkan kepada seorang guru spiritualnya bernama Abah Dofir yang tinggal di kawasan Kemang, Jakarta. Duit itu dikirim tiga bulan sekali dengan menggunakan mobil boks.
Dalam pertemuan tersebut, anggota komisi yang membidangi masalah hukum itu sempat menggali aliran duit Dimas Kanjeng ke sejumlah pejabat. Sayangnya, Dimas Kanjeng menolak membeberkan. 
"Sudah saya ikhlaskan semua," ucapnya singkat. (JPG) 
Sumber:http://www.jpnn.com/

Jadi Bos Yayasan Dimas Kanjeng, Marwah Daud Diincar Polisi?  

MINGGU, 02 OKTOBER 2016 | 22:15 WIB
Jadi Bos Yayasan Dimas Kanjeng, Marwah Daud Diincar Polisi?  
Marwah Daud Ibrahim. TEMPO/Amston Probel
TEMPO.COJakarta - Kepala Biro Penerangan Masyarakat Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia Komisaris Besar Agus Rianto mengatakan, penyidik Kepolisian masih mendalami dugaan kasus penipuan dengan tersangka Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Menurut dia, polisi akan meminta banyak keterangan dari berbagai pihak terkait kasus ini.
"Semakin banyak yang dimintai keterangan, maka semakin komprehensif,” kata Komisaris Besar Agus saat dihubungi Tempo, Ahad, 2 Oktober 2016. Kala disinggung apa akan memeriksa Marwah Daud Ibrahim, Agus menjawab diplomatis. “Penyidik sedang melihat siapa saja yang diperlukan dan dimintai keterangan."
Agus mengatakan, dirinya belum mendapat informasi detil mengenai rencana kerja para penyidik termasuk siapa saja yang akan diperiksa terkait dugaan penipuan bermodus penggandaan uang ini. “Sementara ini kan baru ada beberapa pelapor yang dirugikan terkait sangkaan itu (penipuan),” kata dia.
Nama Marwah Daud Ibrahim belakangan mencuat dan dikaitkan dengan Dimas Kanjeng karena sikapnya yang membela habis-habisan. Marwah Daud Ibrahim adalah Ketua Yayasan Dimas Kanjeng Pribadi. Politikus Partai Gerindra ini mengaku pernah melihat karomah Dimas yang mampu mengeluarkan duit dari bagian tubuhnya.
PoldaJawa Timur menetapkan Dimas Kanjeng sebagai tersangka kasus penipuan Jumat kemarin. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jawa Timur Komisaris Besar Argo Yuwono mengatakan penyidik telah melakukan gelar perkara dan berdasarkan alat bukti serta keterangan saksi pelapor, Dimas Kanjeng layak ditetapkan tersangka.
Tidak hanya dugaan penipuan, Dimas Kanjeng juga menjadi tersangka kasus pembunuhan dua muridnya, yakni Ismail Hidayah dan Abdul Gani. Dimas Kanjeng diduga menjadi dalang pembunuhan kedua bekas pengikutnya karena dia khawatir muridnya itu akan membuka praktek kebohongannya kepada Kepolisian.
AHMAD FAIZ

Kematian Korban Dimas Kanjeng Direka Ulang, Apa Kata Polisi?

MINGGU, 02 OKTOBER 2016 | 21:08 WIB
Kematian Korban Dimas Kanjeng Direka Ulang, Apa Kata Polisi?
Pasca Dimas Kanjeng Ditahan, Padepokannya Terlihat Sepi. TEMPO/Fahmi Ali
TEMPO.COProbolinggo - Menjelang rekonstruksi kasus pembunuhan, polisi mensterilkan wilayah Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di perbatasan Desa Wangkal dan Gadingwetan, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Rekonstruksi akan dilakukan Senin, 3 Oktober 2016. Salah satu tempat utama yang akan dijadikan lokasi rekonstruksi adalah rumah induk Taat Pribadi di padepokan. Di lokasi ini diduga menjadi tempat perencanaan pembunuhan.
Selain ruang utama, juga terdapat ruang penyimpanan uang mahar setoran pengikut Taat. Kepolisian Resor Probolinggo membatasi akses menuju lokasi padepokan dengan melarang masyarakat masuk ke areal padepokan.
Hanya pihak yang berkepentingan yang diperbolehkan masuk termasuk wartawan. "Ada dua SSK Brimob dan dua SSK Dalmas serta 130 personil Polres yang akan disiagakan untuk rekonstruksi besok,” kata Kepala Bagian Operasional Kepolisian Resor Probolinggo Komisaris Budi Sulistyanto, Ahad, 2 Oktober 2016.
Selain itu, polisi juga akan menyiagakan kendaraan taktis (rantis). Polisi bakal mengawasi ruang gerak para ‘santri’ atau pengikut Taat yang masih bertahan di barak-barak atau tenda yang dibangun di sekitar areal padepokan.
Areal tempat tinggal mereka berjarak 30 meter dari rumah induk Taat namun dibatasi dengan pagar tembok. Adapun pimpinan mereka, Dimas Kanjeng Taat Pribadi, tersangkut pembunuh dua eks anak buahnya dan penipuan dengan modus penggandaan uang.
Selain Taat, sembilan orang anak buah dan orang suruhannya juga jadi tersangka pembunuhan berencana pada Ismail Hidayah dan Abdul Gani. Kasus pembunuhan dan penipuan tersebut ditangani Kepolisian Daerah Jawa Timur.

ISHOMUDDIN

Begini Kisah 2 Koper Uang 'Gaib' di Rumah Marwah Daud  

MINGGU, 02 OKTOBER 2016 | 09:30 WIB
Begini Kisah 2 Koper Uang 'Gaib' di Rumah Marwah Daud  
Marwah Daud Ibrahim. Dok. TEMPO/Zulkarnain
TEMPO.COProbolinggo – Bekas pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi mengungkapkan aksi tipu Taat dan anak buahnya memindahkan atau memunculkan uang asli secara gaib untuk meyakinkan Marwah Daud Ibrahim, Ketua Yayasan Pedepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Mohamad Abdul Junaidi, 49 tahun, warga Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, menceritakan aksi tipu tersebut.
Junaidi mendapat cerita dari Ismail Hidayah, salah satu korban pembunuhan yang melibatkan Taat. Sebelum Ismail dibunuh orang-orang suruhan Taat, Ismail bercerita kepada Junaidi yang juga ‘santri’ Taat dan teman dekat Ismail sejak remaja. Ismail merupakan salah satu orang kepercayaan Taat yang tahu banyak dan berperan besar membantu aksi penipuan penggandaan uang.
“Ismail pernah cerita dia bawa uang dua koper ke rumah Bu Marwah seakan-akan uang itu tiba-tiba muncul atau dibawa jin,” kata Junaidi saat melapor ke Kepolisian Resor Probolinggo, Sabtu malam, 1 Oktober 2016.
Junaidi memberi keterangan kepada polisi sejak Sabtu malam sampai Ahad dinihari, 2 Oktober 2016. Junaidi merupakan korban penipuan penggandaan uang dengan jumlah mahar Rp 200 juta. Ia juga menyerahkan sejumlah barang ritual penggandaan uang.
Uang dua koper itu diletakkan di teras rumah Marwah. “Waktu itu Bu Marwah katanya sedang tidur,” ujar Junaidi menirukan ucapan Ismail. Setelah uang ditaruh di teras rumah, Taat yang berkonspirasi dengan Ismail langsung menelepon Marwah memberi tahu jika ada uang yang muncul secara gaib di rumahnya. “Seakan-akan uang ini muncul secara gaib, padahal Ismail yang menaruh di situ,” katanya.
Menurut Junaidi, sesuai pengakuan Ismail, uang dua koper yang dikirim ke rumah Marwah itu uang asli. “Nilainya miliaran,” katanya. Aksi tipu pemindahan uang itu, menurut Junaidi, untuk meyakinkan Marwah sebelum bergabung jadi santri Taat Pribadi. Marwah jadi santri Taat sejak 2011 setelah satu tahun berpikir dan merenung serta menyaksikan aksi Taat menghadirkan uang secara gaib di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi.
Junaidi berani bersumpah atas cerita dari Ismail tersebut. “Saya bawa Al-Quran dan siap disumpah,” katanya.
Soal aksi tipu ‘pemunculan’ uang dua koper itu, Marwah beberapa kali ditelepon untuk dikonfirmasi tak menjawab. Pesan pendek dari Tempo juga tak dibalas. Marwah masih yakin Taat tak bersalah dan memang punya kemampuan memunculkan barang termasuk uang.
“Beliau bisa memindah sesuatu dari satu dimensi ke dimensi lain. Saya awalnya enggak percaya, setelah saya lihat sendiri, saya akhirnya percaya,” kata bekas politikus Partai Golkar yang bergabung dengan Partai Gerindra sejak 2015 sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Koperasi, UMKM, dan Ekonomi Kreatif, Sabtu, 1 Oktober 2016.
ISHOMUDDIN
Sumber:https://nasional.tempo.co/read/news/2016/10/02/078808950