Kamis, 14 Maret 2019

ORANG HILANG, HAM '98 ; Prabowo Terlibat ?


Korban penculikan aktivis 1998 tidak satu suara dalam Pilpres 2019. Mereka saling tuding soal keterlibatan Prabowo Subianto.

Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto (tengah) menyapa pendukungnya saat menghadiri silaturahmi dengan pengusaha Tionghoa di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (22/12/2018). ANTARA FOTO/Moch Asim/aww.
Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto (tengah) menyapa pendukungnya saat menghadiri silaturahmi dengan pengusaha Tionghoa di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (22/12/2018). ANTARA FOTO/Moch Asim/aww.
tirto.id - Sejumlah aktivis 1998 pada Rabu, 13 Maret 2019 mendeklarasikan dukungan kepada pasangan capres-cawapres nomor urut 01, Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Alasannya, mereka tak ingin Prabowo Subianto yang dituding terlibat penculikan aktivis menjadi pemimpin di negeri ini.

Dalam konferensi pers di Hotel Grand Cemara Menteng, Jakarta Pusat, hadir sejumlah aktivis yang pernah diculik dan akhirnya kembali, seperti Mugiyanto, Faisol Riza, dan Aan Rusdianto.

Beberapa keluarga korban penculikan yang belum ditemukan hingga saat ini, seperti Wahyu Susilo, adik Widji Thukul juga hadir. Selain itu, Paian Siahaan, ayah dari Ucok Munandar Siahaan, orang tua dari Gilang, Suyat, dan Petrus Bimo Anugrah juga hadir deklarasi.

Mugiyanto, salah satu aktivis yang ikut diculik pada 1998, mengatakan salah satu alasan mendukung Jokowi pada Pilpres 2019 karena tak ingin membiarkan Prabowo, yang terindikasi menjadi dalang penculikan, menjadi pemimpin Indonesia.

“Salah satu capres, nomor 02 adalah yang secara langsung terkait dengan peristiwa yang kami alami. Waktu itu Prabowo adalah Danjen Kopassus dan kemudian diberhentikan secara tidak terhormat,” kata Mugiyanto saat konferensi pers.

Mugiyanto tergabung dalam Ikatan Keluarga Orang Hilang (IKOHI) yang terbentuk pada 1998.

Organisasi itu dibentuk dengan maksud untuk mencari kebenaran dan keadilan terhadap para korban. Menurut Mugiyanto, dokumen-dokumen yang dimiliki oleh IKOHI menyebutkan pelaku penculikan adalah Kopassus yang dipimpin Prabowo Subianto.

"Kami tidak ingin. Kami tidak punya bayangan bahwa pelaku pelanggaran HAM, pelaku penculikan yang belum mempertanggungjawabkan kesalahannya secara hukum, dipilih menjadi presiden. Kami tidak bisa membayangkan dipimpin oleh dia,” kata dia.


Namun, tak semua aktivis 1998 yang pernah diculik berada di kubu 01. Beberapa justru bersebrangan dan mendukung capres-cawapres nomor urut 02. Mereka antara lain: Desmon Junaidi Mahesa, Viva Yoga, Habiburokhman, hingga politikus Partai Demokrat Andi Arief.

Faisol Reza, aktivis 1998 yang saat ini menjadi politikus PKB, mengatakan tak masalah teman-teman seperjuangannya pada reformasi 1998 itu merapat ke orang yang diduga terlibat dalam penculikan aktivis mahasiswa.

“Ya bagus, bagus-bagus saja. Mereka punya sikap dan pandangan. Punya kesimpulan terhadap kasus-kasus yang pernah mereka alami. Bagus-bagus aja," kata Faisol saat ditemui wartawan Tirto, Rabu kemarin.

Ia justru percaya bahwa teman-temannya sesama aktivis yang sekarang berada di kubu Prabowo, masih memiliki hati dan nurani untuk membantu para keluarga korban yang hingga saat ini belum menemui korban yang hilang.

“Saya pribadi, merasa kalau ditanyakan kepada hati nurani dan sanubari mereka, pasti mereka melakukan itu hanya untuk membantu agar kasus ini terselesaikan. Jadi mungkin mereka ke sana, ini menurut saya, itu untuk membantu kami membongkar dari dalam. Kira-kira itu. Tetap sama-sama niatnya," kata Faisol.
Mereka yang Segaris dengan Prabowo

Habiburokhman, aktivis 1998 yang saat ini merupakan politikus Partai Gerindra, menanggapi ucapan Faisol Reza. Ia menilai Prabowo tak pernah terlibat dalam penculikan, seperti yang dituding orang-orang selama ini.

"Lebih baik mereka tagih saja janji Jokowi untuk selesaikan kasus-kasus dugaaan pelanggaran HAM berat yang selama ini mangkrak, daripada bersikap tendensius kepada kami," kata Habiburokhman saat dihubungi wartawan Tirto, Kamis (14/3/2019) sore.

Ia mempertanyakan apa saja yang sudah dilakukan Jokowi selama satu periode terakhir dalam menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu. Habiburokhman mengatakan heran mengapa kubu 01 baru mengungkit-ungkit kasus penculikan aktivia 1998 menjelang Pilpres 2019.

Padahal, kata Habiburokhman, para aktivis tersebut dekat dengan kekuasaan yang memungkinkan menyelesaikan kasus lebih cepat.

“Jangan sampai kasus-kasus pelanggaran HAM justru dijadikan komoditas politik tiap jelang Pemilu. Saat ini pun mereka harusnya bisa ultimatum Jokowi untuk selesaikan, kan, Jokowi masih presiden aktif. Tapi, kok, isu HAM seolah hanya jadi alat kampanye?" kata dia mempertanyakan.
Mengenai kasus penculikan 1998, Andi Arief, politikus Partai Demokrat yang namanya mencuat di media sosial beberapa waktu terakhir, mengaku punya "perjanjian khusus" dengan Prabowo Subianto ihwal penyelesaian kasus.

"Saya punya teori sendiri soal kasus penculikan. Pak Jokowi tidak tepati janji 2014 selesaikan kasus ini. Saya sudah berkomunikasi dengan Pak Prabowo: 'satu jam setelah ditetapkan pemenang Pilpres, dia akan mencocokkan fakta dan menjelaskan apa adanya dan sekaligus solusinya,'" kata Andi Arief, lewat akun Twitter-nya, Selasa, 12 Maret 2019.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Haris Prabowo
(tirto.id - Politik)

Reporter: Haris Prabowo
Penulis: Haris Prabowo
Editor: Abdul Aziz
sumber: https://tirto.id/baku-tuding-aktivis-1998-soal-prabowo-terlibat-kasus-penculikan-djwY





Fachrul Razi: Cerita Agum Soal Prabowo dan Penculikan Itu Benar

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati





29-agum-gumelar
29-agum-gumelar

TEMPO.COJakarta - Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi  membenarkan cerita Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar mengenai calon presiden Prabowo Subianto sebagai pelaku pelanggaran HAM berat dalam kasus penculikan 1998. "Apa yang disampaikan Pak Agum dalam video (yang beredar) itu benar adanya," ujar Fachrul kepada Tempo pada Rabu malam, 13 Maret 2019.
Fachrul yang saat itu menjabat Wakil Ketua DKP mengonfirmasi bahwa ia dan anggota Dewan Pertimbangan Presiden itu termasuk yang turut menandatangani surat keputusan yang berakhir pada pemecatan Prabowo Subianto sebagai Komandan Jenderal Kopassus saat itu.
Pernyataan Agum yang dimaksud  Fachrul Razi yakni;
(Terpotong di bagian awal) Subagyo HS waktu itu KSAD, anggotanya ada tujuh orang, letjen-letjen bintang-bintang tiga, karena yang diperiksa bintang tiga. Termasuk di dalamnya almarhum Letjen Arie J. Kumaat, Letjen Yusuf Karta (Kartanegara), Letjen Djamari Chaniago, Letjen Fachrul Razi, Letjen Susilo Bambang Yudhoyono, Letjen Agum Gumelar. Itulah anggota DKP. Tugasnya adalah memeriksa kasus ini, kasus pelanggaran HAM berat.
Berjalanlah DKP, bekerjalah DKP sebulan lebih memeriksa yang namanya Prabowo Subianto. Dari hasil pemeriksaan ternyata didapat fakta bukti nyata bahwa dia telah melakukan pelanggaran HAM berat. Saya di samping anggota DKP saya mantan Danjen Kopassus. Tim Mawar yang melakukan penculikan itu bekas anak buah saya semua itu. Saya juga pendekatan dari hati ke hati dengan mereka, di luar kerjaan DKP, karena dia bekas anak buah saya toh.
Ketika dari hati ke hati dengan mereka, di sinilah saya tau di mana matinya orang-orang itu, di mana dibuangnya saya tahu detail, gitu lho. Jadi DKP dengan hasil temuan seperti ini merekomendasikan kepada Panglima TNI, rekomendasinya apa? Dengan kesalahan terbukti, direkomendasikan agar supaya yang bersangkutan diberhentikan dari dinas militer. Tanda tangan semua. Subagyo HS tanda tangan, Agum Gumelar tanda tangan, SBY tanda tangan, semua tanda tangan.
Pengakuan dalam rekaman video ini beredar di media sosial. Tempo masih berusaha meminta konfirmasi dan wawancara lebih lanjut dengan Agum Gumelar mengenai hal ini.
DKP dibentuk untuk menyelidiki kasus penculikan aktivis 98 yang diduga dilakukan atas perintah Danjen Kopassus Letjen TNI Prabowo. DKP saat itu dipimpin Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal (Purn) Subagyo HS. Surat keputusan DKP dibuat pada 21 Agustus 1998. Dalam empat lembar surat itu tertulis pertimbangan atas berbagai pelanggaran yang dilakukan Prabowo. TindakanPrabowo disebut merugikan kehormatan Kopassus, TNI AD, ABRI, bangsa, dan negara.
Mengenai pengakuan Agum yang mengatakan tahu detail di mana mati dan hilangnya korban penculikan dan penghilangan aktivis 98, Fachrul mengaku tidak tahu. "Saat itu kami lebih fokus pada penyelamatan korban-korban yang masih bisa diselamatkan," ujar Fachrul Razi.

Pernyataan Agum Gumelar Soal Penculikan Aktivis Beralasan

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati





Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan di Auditorium PTIK, Jakarta Selatan pada Selasa, 29 Januari 2019. TEMPO/Andita Rahma
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan di Auditorium PTIK, Jakarta Selatan pada Selasa, 29 Januari 2019. TEMPO/Andita Rahma

TEMPO.COJakarta - Inisiator Bravo 5 kubu calon presiden Jokowi - Ma’ruf Amin, Luhut Pandjaitan menilai pernyataan anggota Dewan Pertimbangan Presiden Agum Gumelar mengenai pelanggaran HAM berat yang dilakukan calon presiden Prabowo Subianto bukan omong kosong. Menurut Luhut, ungkapan yang disampaikan purnawirawan jenderal TNI itu berdasar alasan yang kuat.
"Pak Agum ngomong pasti ada alasannya," kata Luhut saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu petang, 13 Maret 2019. Meski demikian, mantan Komandan Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat ini enggan berkomentar lebih jauh.
Jenderal TNI (purn) Agum Gumelar menghebohkan media sosial dengan kisahnya yang beredar lewat sebuah video baru-baru ini. Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Joko Widodo ini membeberkan kesalahan calon presiden Prabowo Subianto sebagai pelaku pelanggaran HAM berat.
Agum adalah salah satu anggota Dewan Kehormatan Perwira yang menyidangkan Prabowo Subianto. Mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus sebelum Prabowo ini mengaku bicara dari hati ke hati dengan anggota Tim Mawar, tim yang kemudian diketahui publik menculik dan menghilangkan aktivis 1997/1998, mantan bekas anak buahnya. "Ketika dari hati ke hati (bicara) dengan mereka, di situlah saya tahu di mana matinya orang-orang itu, di mana dibuangnya, saya tahu detail," kata Agum dalam sebuah video yang diunggah Ulin Niam Yusron di akun Facebooknya, Ahad, 10 Maret 2019.
Sambil duduk di dalam mobil Lexus LX 570 bernomor polisi R1 19, Luhut hanya tersenyum ketika dimintai pendapatnya soal narasi penculikan aktivis 98 yang diceritakan Agum. Luhut juga hanya tersenyum kala dimintai keterangan soal sidang DKP yang menghadirkan Prabowo hingga membuatnya dipecat. "Kalau itu tanya saja Pak Agum," ujar Luhut.
Pengakuan Agum memantik sejumlah komentar kubu Prabowo. Kemarin, politikus Demokrat Ferdinand Hutahaean mengatakan Agum Gumelar berpotensi dihukum. Menurut Ferdinand, pernyataan Agum justru menunjukkan bahwa anggota dewan pertimbangan presiden itu menyembunyikan informasi terkait kejahatan masa lalu yang ia ketahui.
Ferdinand juga mengkritik mantan Danjen Kopassus sebelum Prabowo itu melontarkan pernyataan yang kurang tepat. "Posisi Agum Gumelar sebagai Wantimpres mestinya dan tidak sepatutnya bicara tentang politik seperti ini."
FRANCISCA CHRISTY ROSANA | BUDIARTI UTAMI PUTRI

Minta Pemerintah Pastikan Status Orang Hilang 1998


Reporter:
Editor:

Juli Hantoro





Keluarga korban kasus penghilangan paksa di gedung DPR, Jakarta, Senin (28/9). DPR merekomendasikan Presiden segera membentuk Pengadilan HAM Adhoc untuk mengungkap tragedi penculikan dan pembunuhan sejumlah aktivis periode 1997-1998. TEMPO/Imam Sukam
Keluarga korban kasus penghilangan paksa di gedung DPR, Jakarta, Senin (28/9). DPR merekomendasikan Presiden segera membentuk Pengadilan HAM Adhoc untuk mengungkap tragedi penculikan dan pembunuhan sejumlah aktivis periode 1997-1998. TEMPO/Imam Sukam

TEMPO.COJakarta - Pemerintah diminta memastikan status orang hilang korban penculikan 1998. Permintaan itu datang dari keluarga ke-13 aktivis yang hilang kepada Kepala Staf Presiden Jenderal (Purn) Moeldoko di Binagraha, Jakarta, Rabu, 13 Maret 2019.
Perwakilan Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) Mugiyanto menyampaikan, keluarga memerlukan kepastian apakah para aktivis yang hilang masih hidup atau sudah meninggal. "Apalagi kasus ini juga sudah ada rekomendasi dari Komnas HAM dan DPR,” kata Mugiyanto seperti dikutip dalam keterangan tertulis, Rabu malam, 13 Maret 2019.
Mugiyanto mewakili keluarga aktivis yang hilang menyampaikan tuntutan lainnya. Mereka meminta pemerintah segera menerbitkan dokumen resmi soal status kependudukan korban hilang.
Tuntutan berikutnya, yakni pemberian kompensasi kepada keluarga korban dengan menjamin biaya hidup, kesehatan, dan pendidikan. Permintaan terakhir agar pemerintah mempercepat ratifikasi Konvensi Internasional tentang Perlindungan Terhadap Semua Orang dari Tindakan Penghilangan Secara Paksa. "Tinggal satu konvensi ini yang belum diratifikasi," ucap Mugiyanto.
Dalam kesempatan itu, Moeldoko berjanji bakal meneruskan tuntutan para keluarga orang hilangkorban penculikan 1998 itu kepada Presiden RI Joko Widodo

Kubu Prabowo: Agum Gumelar Tutupi Informasi Penculikan Aktivis


Reporter:
Editor:

Amirullah





Agum Gumelar adalah anggota Dewan Kehormatan Perwira yang merekomendasikan Prabowo dipecat dari militer pada 1998. Prabowo kala itu melakukan tindakan di luar kewenangannya. TEMPO/Dhemas Reviyanto
Agum Gumelar adalah anggota Dewan Kehormatan Perwira yang merekomendasikan Prabowo dipecat dari militer pada 1998. Prabowo kala itu melakukan tindakan di luar kewenangannya. TEMPO/Dhemas Reviyanto

TEMPO.COJakarta - Juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo - Sandiaga, Ferdinand Hutahaean, mempertanyakan sikap Agum Gumelar soal lokasi kuburan aktivis yang dibunuh pada 1997/1998. Agum dianggap menyembunyikan informasi terkait kejahatan yang dia ketahui.
"Semestinya dia memberikan masukan dan pertimbangan kepada Presiden Jokowi untuk mengadili perkara ini," kata Ferdinand kepada Tempo, Rabu, 13 Maret 2019.
Dalam sebuah video yang beredar, Agum Gumelar bicara tentang kesalahan Prabowo dalam penculikan dan penghilangan aktivis 1997/1998. Mantan atasan Prabowo itu mengaku tahu di mana para aktivis dihilangkan dan lokasi pembuangan mereka.
Ferdinand mengatakan, dalam konteks hukum pidana, Agum Gumelar bisa dihukum lantaran dianggap menutupi atau menyembunyikan informasi terkait kejahatan yang dia ketahui. Dia juga menilai Agum bicara isu basi yang kerap diulang saat pilpres dan tak etis dalam kapasitasnya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden.
"Saya pikir Agum Gumelar sedang berbicara tentang isu basi yang sudah usang. Itu yang pertama. Yang kedua, posisi Agum Gumelar sebagai Wantimpres mestinya dan tidak sepatutnya bicara tentang politik seperti ini," kata Ferdinand.
Ferdinand mengatakan, seorang Wantimpres harusnya melontarkan hal-hal yang bijak. Jika ingin bicara politik, kata politikus Demokrat ini, Agum sebaiknya mundur dulu dari jabatannya sebagai Wantimpres.

Kubu Prabowo Menilai Agum Gumelar Tak Etis dan Bicara Isu Basi



Reporter:
Editor:

Amirullah

TEMPO.COJakarta - Juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo - Sandiaga, Ferdinand Hutahaean, menyebut ucapan Agum Gumelar tentang pelanggaran HAM berat oleh Prabowo merupakan isu basi. Ferdinand juga menilai Agum berlaku tak etis bicara politik dalam posisinya sebagai Dewan Pertimbangan Presiden Joko Widodo.



Ketua Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean di Jalan Mega Kuningan Timur VII, Jakarta Selatan, Ahad, 9 September 2018. Partai Demokrat merayakan ulang tahun yang ke-17, bertepatan dengan ulang tahun ke-69 Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. TEMPO/Budiarti Utami Putri.
Ketua Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean di Jalan Mega Kuningan Timur VII, Jakarta Selatan, Ahad, 9 September 2018. Partai Demokrat merayakan ulang tahun yang ke-17, bertepatan dengan ulang tahun ke-69 Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. TEMPO/Budiarti Utami Putri.
"Saya pikir Agum Gumelar sedang berbicara tentang isu basi yang sudah usang. Itu yang pertama. Yang kedua, posisi Agum Gumelar sebagai Wantimpres tidak sepatutnya bicara tentang politik seperti ini," kata Ferdinand kepada Tempo, Rabu, 13 Maret 2019.
Ferdinand mengatakan, seorang Wantimpres harusnya melontarkan hal-hal yang bijak. Jika ingin bicara politik, kata politikus Demokrat ini, Agum sebaiknya mundur dulu dari jabatannya sebagai Wantimpres.
Sebelumnya, beredar video Agum Gumelar dalam sebuah forum berbicara tentang kesalahan Prabowo dalam penculikan dan penghilangan aktivis 1997/1998. Agum merupakan salah satu anggota Dewan Kehormatan Perwira yang ikut menyidangkan Prabowo, hingga akhirnya pendiri Partai Gerindra itu diberhentikan dari militer.
Menurut Agum, semua anggota DKP ketika itu menandatangani pemberhentian Prabowo. Mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus sebelum Prabowo itu juga mengklaim mengetahui di mana para aktivis dihilangkan dan lokasi pembuangan mereka.
Ferdinand juga mempertanyakan mengapa Agum tak menyampaikan informasi tersebut kepada Presiden Joko Widodo agar bisa ditindaklanjuti. Dia berujar, dalam konteks hukum pidana, Agum bisa dihukum lantaran dianggap menutupi atau menyembunyikan informasi terkait kejahatan yang dia ketahui. "Semestinya dia memberikan masukan dan pertimbangan kepada Presiden Jokowi untuk mengadili perkara ini," kata dia.
SUMBER: https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=4319767031418914363#editor/target=post;postID=5406038835711825393;onPublishedMenu=allposts;onClosedMenu=allposts;postNum=0;src=link

Rabu, 13 Maret 2019

Istri Terduga Teroris Sibolga Meledakkan Diri Pakai Bom Rabu, 13 Maret 2019 09:00

MABES Polri menyatakan istri terduga teroris Husain alias Abu Hamzah di Sibolga, Sumatera Utara, bunuh diri dengan cara meledakkan diri menggunakan bom.
BREAKING NEWS: Istri Terduga Teroris Sibolga Meledakkan Diri Pakai Bom
Istimewa
Polisi mengamankan pelaku teror bom di Sibolga, Selasa (12/3/2019). 
Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, kejadian itu terjadi pada Rabu (13/3/2019) sekira pukul 02.00 WIB.
"Info dari lapangan, untuk istri terduga teroris sekira pukul 02.00 WIB meledakkan diri," ujar Dedi Prasetyo ketika dikonfirmasi, Rabu (13/3/2019).
Ia mengatakan, aparat kepolisian di lapangan tengah menunggu tim Laboratorium Forensik (Labfor) dan Inafis, untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Selain itu, aparat di lapangan belum bisa masuk ke kediaman terduga teroris. Jenderal bintang satu itu menyebut masih terdapat sisa-sisa bom.
"Saat ini masih menunggu Tim Labfor dan inafis untuk olah TKP. Tim belum bisa masuk karena diduga masih ada sisa-sisa bom yang membahayakan petugas," jelasnya.
Sebelumnya diberitakan Wartakotalive.com, tiga ledakan bom terjadi sepanjang Selasa (12/3/2019) sore hingga Rabu (13/3/2019) dini hari, di Jalan KH Ahmad Dahlan, Gang Sekuntum, Kelurahan Pancuran Bambu, Kecamatan Sibolga Sambas, Sibolga, Sumatera Utara.
Ledakan itu terjadi ketika tim Densus 88 menggerebek rumah terduga teroris, Husain alias Abu Hamzah.
Ledakan pertama terjadi sekitar pukul 14.30 WIB. Kemudian, dua ledakan terjadi lagi sekitar pukul 01.20 pada Rabu dini hari.
Akibat ledakan bom yang cukup dahsyat dari rumah terduga teroris itu, warga sekitar berhamburan menyelamatkan diri.
Imbas dari ledakan tersebut, tampak kepulan asap tebal di bagian atas rumah terduga teroris.
Diduga kuat, isteri terduga teroris melemparkan bom itu ke arah rumah warga dari atas rumahnya.
Petugas pun langsung bergerak untuk mengecek lokasi ledakan bom, sedangkan  warga langsung dipukul mundur agar jangan mendekat ke lokasi.
Kuatnya ledakan bom itu membuat beberapa orang warga sekitar terjatuh dan dimasukkan ke ambulans dan langsung dilarikan ke rumah sakit.
Setelah bom meledak, muncul kobaran api yang membuat warga semakin panik.
Kobaran api itu muncul sekitar pukul 03.00 WIB, dan warga pun langsung berusaha mendekati lokasi tersebut.
Namun, karena masih rawan akan adanya sisa bom di sekitar lokasi, polisi tidak mengizinkan warga untuk masuk, apalagi mendekati TKP.
"Minta tolong pak polisi, saya mau ke rumah keluarga saya, karena kami sudah melihat kobaran api pak. Minta tolong pak," pinta seorang warga kepada polisi, namun pihak kepolisian tetap tidak mengizinkan warga masuk ke lokasi.
Kondisi masyarakat Sibolga, khususnya yang tinggal di sekitar lokasi kejadian, panik. Mereka ketakutan akan terjadinya ledakan bom berikutnya.
"Permintaan kami biarlah cepat ditangkap teroris itu, karena kami ketakutan ini," kata seorang warga sekitar.
Abu Hamzah sebenarnya sudah diamankan aparat Densus 88 sejak Selasa sore. Namun, istrinya bertahan di rumahnya bersama satu putranya yang masih berusia tiga tahun.
Berbagai upaya sudah dilakukan polisi, termasuk membujuk agar istri terduga teroris itu mau menyerahkan diri, terutama untuk menyelamatkan anaknya yang masih balita.
Belum diketahui apakah pagi ini istri terduga teroris itu sudah berhasil diamankan polisi atau belum.
Bekuk Dua Terduga Teroris
Sementara, Kapolda Sumatera Utara Irjen Agus Andrianto mengatakan, sebanyak dua terduga teroris di Sibolga berhasil diamankan dari dua tempat berbeda, Selasa.
Hal itu diungkapkan Kapolda yang langsung turun ke TKP dari Medan, menaiki helikopter.
"Yang ditangkap baru dua, ini kita sedang negosiasi, karena ada anak-anak dan perempuan juga di dalam," kata Kapolda, Selasa malam.
Kapolda juga menjelaskan, kedua terduga teroris disinyalir ada jaringan dengan kelompok ISIS.
Penangkapan yang dilakukan di Sibolga, hasil pengembangan penangkapan teroris yang ada di Lampung beberapa waktu lalu.
Disinggung apakah peristiwa ini ada kaitan dengan rencana kedatangan Presiden ke Sibolga untuk meresmikan Pelabuhan Sibolga, Kapolda membantah hal itu.
"Enggak ada itu. Ini murni pengembangan terkait penangkapan yang di Lampung," jawabnya.
Bekerja Sebagai Tukang Listrik
Terduga teroris Sibolga yang meledakkan bom di rumahnya di Jalan KH Ahmad Dahlan, Gang Sekuntum, Kelurahan Pancuran Bambu, Kecamatan Sibolga Sambas, Siboga, Selasa sore ketika hendak digerebek Densus 88, berprofesi sebagai tukang listrik.
Terduga pelaku adalah asli warga Sibolga dan memiliki satu putra yang masih berusia sekitar tiga tahun.
Menurut keterangan warga sekitar, Selasa malam, terduga teroris itu baru pulang dari Pulau Jawa sekitar enam bulan lalu. Setelah kepulangannya ke Sibolga, sikapnya pun jadi berubah dan pendiam.
“Dia (terduga teroris) berubah sikapnya setelah pulang dari Pulau Jawa. Dia jadi pendiam dan jarang bergaul dengan masyarakat sekitar. Makanya kami heran dengan kejadian ini. Mungkin selama di Jawa dia telah mendapat pengajaran atau belajar merakit bom,” ungkap warga sekitar yang mengaku kenal dengan terduga pelaku.
Warga Jalan KH Ahmad Dahlan, Gang Sekuntum, Kelurahan Pancuran Bambu, Kecamatan Sibolga Sambas, Kota Sibolga mengaku kaget dan panik akibat ledakan bom yang terjadi Selasa sore itu.
“Keras suara ledakannya. Awalnya kami kira tabung gas yang meledak. Setelah melihat ada warga yang luka dan berdarah dari dalam rumah, barulah kami tahu ternyata yang meledak itu adalah bom. Kami benar-benar panik dan tidak menyangka ada bom di Sibolga ini,” ujar Rahmad, warga setempat kepada ANTARA, Selasa malam.
Berafiliasi dengan ISIS
Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, pelaku terduga teroris yang berhasil ditangkap Densus 88 antiteror di Sibolga dan Lampung, merupakan bagian dari jaringan yang berafiliasi dengan ISIS.
Hal itu ia katakan kepada wartawan, seusai menghadiri kegiatan Silahturahmi di Pondok Pesantren Al Kautsar di Medan, Sumatera Utara, Selasa malam.
"Mereka ini adalah kelompok yang berafiliasi dengan paham-paham ISIS," katanya.
Untuk peristiwa di Sibolga, lanjut dia, terduga teroris Husain alias Abu Hamzah berhasil diamankan Densus 88 antiteror, namun istri dan anaknya masih bertahan di dalam rumah.
"Saat ini pihak kepolisian masih dalam proses negoisasi dan berdialog dengan istrinya, kita berharap tentunya ini bisa keluar dan terselamatkan dalam keadaan baik-baik saja," harapnya.
Penangkapan di Sibolga, merupakan hasil pengembangan dari penangkapan terduga teroris R di Lampung sebelumnya.
Kapolri menegaskan peristiwa penangkapan teroris ini tidak ada kaitannya dengan pemilu maupun pengamanan Presiden yang akan berkunjung ke suatu daerah.
"Saya tegaskan kembali bahwa penangkapan pelaku teroris ini tidak ada kaitannya dengan pemilu dan kunjungan presiden," tegasnya. (Vincentius Jyestha) Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews

Senin, 11 Maret 2019

Mansa Musa, Orang 'Terkaya' Sepanjang Masa

Mansa Musa berkelana ke Mekah dengan rombongan berisi 60 ribu orang dan 12 ribu budak

Hak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionMansa Musa berkelana ke Mekah dengan rombongan berisi 60.000 orang dan 12.000 budak.
Pendiri Amazon Jeff Bezos adalah orang terkaya di dunia, menurut daftar miliuner Forbes 2019 yang dirilis pekan lalu. Dengan kekayaan senilai kurang lebih USD131 miliar Rp1,87 kuadriliun, ia adalah orang terkaya dalam sejarah dunia modern.
Namun ia bukanlah orang terkaya sepanjang masa.
Gelar tersebut dipegang oleh Mansa Musa, penguasa Afrika Barat di abad ke-14 yang amat sangat kaya sampai-sampai saking dermawannya, sedekah yang ia berikan menghancurkan perekonomian suatu negeri.
"Jumlah kekayaan Musa jika dihitung di masa kini sungguh luar biasa sampai-sampai hampir mustahil untuk benar-benar memahami betapa kaya dan berkuasanya ia saat itu," ungkap Rudolph Butch Ware, guru besar sejarah di Universitas California, kepada BBC.
Mansa Musa "lebih kaya daripada apa yang orang bayangkan", ujar Jacob Davidson yang menulis tentang raja Afrika tersebut untuk situs Money.com tahun 2015 lalu.
Pada tahun 2012, situs web AS Celebrity Net Worth memperkirakan jumlah kekayaan Musa berada di angka US$400 miliar atau sekitar Rp5,72 kuadriliun, namun sejarawan ekonomi satu suara bahwa kekayaannya tak mungkin diejawantahkan ke dalam angka.

10 orang terkaya sepanjang masa

  • Mansa Musa (1280-1337, raja Kerajaan Mali) kekayaan di luar nalar
  • Augustus Caesar (63 SM-14 M, kaisar Roma) Rp65,9 kuadriliun
  • Zhao Xu (1048-1085, kaisar Shenzong of Song di Cina) kekayaan tak terhitung
  • Akbar I (1542-1605, kaisar dinasti Mughal, India) kekayaan tak terhitung
  • Andrew Carnegie (1835-1919, industrialis keturunan Skotlandia-Amerika) Rp5,32 kuadriliun
  • John D Rockefeller (1839-1937, jutawan bisnis AS) Rp4,88 kuadriliun
  • Nikolai Alexandrovich Romanov (1868-1918, kaisar Rusia) Rp4,29 kuadriliun
  • Mir Osman Ali Khan (1886-1967, bangsawan India) Rp3,29 kuadriliun
  • William Sang Penakluk (1028-1087) Rp3,28 kuadriliun
  • Muammar Gadafi (1942-2011, penguasa Libya) Rp2,86 kuadriliun
Sumber: Money.com, Celebrity Net Worth

Raja emas

Mansa Musa lahir tahun 1280 di keluarga para penguasa. Saudara laki-lakinya, Mansa Abu-Bakr, memerintah kerajaan mereka hingga tahun 1312, ketika ia turun takhta untuk pergi dalam sebuah ekspedisi.
Menurut sejarawan Suriah abad ke-14, Shibab al-Umari, Abu-Bakr terobsesi dengan Samudera Atlantik dan segala sesuatu yang ada di baliknya.
Ia dikabarkan berangkat dalam sebuah ekspedisi dengan armada sebanyak 2.000 kapal serta ribuan pria, perempuan, dan budak. Mereka pergi berlayar, namun tak pernah kembali.
Beberapa sejarawan, seperti mendiang sejarawan Amerika Ivan Van Sertima, berasumsi bahwa rombongan Abu-Bakr berhasil mencapai Amerika Selatan. Namun tak ada bukti yang mendukung asumsi tersebut.
Bagaimana pun, akhirnya Mansa Musa lah yang mewarisi takhta yang ditinggalkan sang saudara laki-laki.
Di bawah kepemimpinannya, Kerajaan Mali berkembang pesat. Ia berhasil menguasai 24 kota baru, termasuk Timbuktu.
Kerajaan tersebut membentang sepanjang 3.128 kilometer, dari Samudera Atlantik hingga daerah yang kini merupakan Niger, termasuk kawasan-kawasan yang kini menjadi Senegal, Mauritania, Mali, Burkina Faso, Niger, Gambia, Guinea-Bissau, Republik Guinea, dan Pantai Gading.
Peta Kerajaan Mali
Image captionPeta Kerajaan Mali
Dengan wilayah kekuasaan yang sangat luas, sumber daya alam yang dimiliki Kerajaan Mali pun sangat besar, termasuk emas dan garam.
Pada masa kekuasaan Mansa Musa, Kerajaan Mali memiliki hampir separuh jumlah emas yang beredar di kawasan Dunia Lama - negeri-negeri di Afrika, Asia dan Eropa - menurut British Museum.
Dan semuanya milik sang raja.
"Sebagai penguasa, Mansa Musa punya akses yang hampir tidak terbatas terhadap sumber-sumber kekayaan paling bernilai pada abad pertengahan," ujar Kathleen Bickford Berzock, yang merupakan spesialis seni Afrika di Block Museum of Art di Universitas Northwestern, kepada BBC.
"Pusat-pusat perdagangan besar yang menggunakan emas dan komoditas lain sebagai alat tukar juga berada di daerah kekuasaannya, dan ia memperoleh kekayaannya dari aktivitas perdagangan tersebut," tambahnya.

Perjalanan ke Mekah

Walaupun Kerajaan Mali menjadi sumber emas, kerajaan tersebut tidak banyak dikenal.
Hal ini berubah ketika Mansa Musa, seorang Muslim yang taat, memutuskan untuk berhaji ke Mekah, melalui Gurun Sahara dan Mesir.
Perjalanan ke Mekah membuat Mali dan Mansa Musa dikenal dunia - sebuah fotokopi peta Catalan Atlas dari 1375Hak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionPerjalanan ke Mekah membuat Mali dan Mansa Musa dikenal dunia - sebuah fotokopi peta Catalan Atlas dari 1375
Sang raja dikabarkan berangkat dari Mali bersama dengan rombongan berisi 60.000 orang.
Ia membawa serta seluruh pejabat dan hakim-hakim kerajaan, pasukan tentara, penghibur, pedagang, penunggang unta dan 12.000 budaknya, juga serobongan kambing dan sapi untuk persediaan makanan.
Rombongannya tampak seperti sebuah kota yang bergerak melalui gurun.
Kota yang para penghuninya, termasuk para budaknya, mengenakan pakaian dengan brokat emas dan sutra Persia terbaik. Ratusan unta beruntun, masing-masing mengangkut ratusan kilogram emas murni.
Benar-benar sebuah pemandangan luar biasa.
Dan pemandangan itu tampak lebih mewah saat rombongannya mencapai Kairo, di mana mereka dapat benar-benar menunjukkan kekayaan mereka.
Kisah Banjir Emas di Kairo
Mansa Musa meninggalkan kesan tak terlupakan di Kairo, hingga al-Umari, yang mengunjungi kota itu 12 tahun setelah kedatangan Mansa Musa ke sana, ingat bagaimana orang-orang Kairo menyanjung-nyanjung raja Mali tersebut.
Dengan 'boros' Mansa Musa memberikan emas yang dibawanya di Kairo, sampai-sampai persinggahannya selama tiga bulan di kota tersebut menyebabkan anjloknya harga emas di kawasan tersebut selama 10 tahun dan menghancurkan perekonomian di sana.
Perusahaan teknologi AS, SmartAsset.com, memperkirakan - berdasarkan penyusutan nilai emas - perjalanan haji Mansa Musa menyebabkan kerugian ekonomi senilai US$1,5 miliar atau sekitar Rp21,4 triliun di seantero Timur Tengah.
Dalam perjalanan pulangnya, Mansa Musa melintasi Mesir kembali, dan menurut beberapa orang, ia mencoba untuk membantu mengembalikan perekonomian Mesir dengan menarik sebagain emas dari peredaran dengan cara meminjamnya menggunakan suku bunga yang amat tinggi dari para pemberi pinjaman Mesir.
Yang lainnya mengatakan ia sangat boros sampai-sampai kehabisan emas.
Lucy Duran dari School of African and Oriental Studies di London mencatat bahwa para penghibur Mali, yang merupakan pendongeng balada sejarah, khususnya, marah terhadap Mansa Musa.
"Ia membagikan terlalu banyak emas sepanjang perjalanan hingga para penghibur tak mau memuja-mujinya lagi dalam nyanyian mereka karena mereka berpikir bahwa ia menghambur-hamburkan sumber daya alam lokal di luar kerajaan," ujarnya.
Sangat perhatian dengan dunia pendidikan
Tak ada keraguan bahwa Mansa Musa menghabiskan, atau menghamburkan, banyak sekali emas sepanjang perjalanan hajinya. Namun justru kedermawanannya itulah yang menarik perhatian dunia.
Mansa Musa membuat kerajaannya, Mali, dan dirinya sendiri diakui dunia. Pada peta Catalan Atlas yang berasal dari tahun 1375, sebuah lukisan bergambar seorang raja Afrika yang duduk di atas singgasana emas di puncak Timbuktu, sambil memegang sepotong emas di tangannya.
Timbuktu menjadi El Dorado-nya Afrika dan orang-orang datang dari negeri yang dekat dan jauh untuk melihatnya.
Pada abad ke-19, negeri tersebut masih menyimpan sebuah mitos sebagai kota emas yang hilang di ujung dunia, dan menjadi incaran para pemburu dan penjelajah Eropa, di mana hal ini sebagian besar berkat apa yang dilakukan Mansa Musa 500 tahun sebelumnya.
Mansa Musa memerintahkan pembangunan Mesjid Djinguereber yang terkenal di tahun 1327Hak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionMansa Musa memerintahkan pembangunan Mesjid Djinguereber yang terkenal di tahun 1327.
Mansa Musa kembali dari Mekah bersama sejumlah cendekiawan Islam, termasuk keturunan langsung Nabi Muhammad dan penulis puisi sekaligus arsitek Andalusia bernama Abu Es Haq es Saheli, yang dikenal sebagai perancang Mesjid Djinguereber yang terkenal.
Raja dikabarkan membayarnya dengan 200 kilogram emas, yang jika dikonversikan ke dalam mata uang saat ini menjadi sebesar Rp117,2 miliar.
Selain mendorong dunia seni dan arsitektur, ia juga mendanai dunia sastra dan membangun banyak sekolah, perpustakaan, dan mesjid.
Tak lama, Timbuktu berubah menjadi pusat pendidikan dan banyak orang berdatangan dari berbagai belahan dunia untuk belajar di tempat yang kini dikenal sebagai Universitas Sankore.
Raja yang kaya itu juga sering kali dianggap berjasa karena telah memulai tradisi pendidikan di Afrika Barat, meskipun kisah tentang kerajaannya hanya sedikit diketahui orang di luar Afrika Barat.
"Sejarah dicatat oleh para pemenang," menurut Perdana Menteri Inggris di masa Peradang Dunia II, Winston Churchill.
Setelah Mansa Musa meninggal dunia tahun 1337, pada usia 57, kerajaannya diwariskan kepada putra-putranya yang tak mampu menjaga keutuhan kerajaan. Sejumlah daerah memisahkan diri dan akhirnya kerajaan itu pun runtuh.
Kedatangan bangsa Eropa di kemudian hari ke Afrika menjadi titik akhir kehancuran kerajaan Mali.
"Sejarah periode abad pertengahan masih dilihat sebagian besar orang sebagai sejarah dunia Barat," ujar Lisa Corrin Graziose, direktur Block Museum of Art, menjelaskan mengapa kisah tentang Mansa Musa tak populer.
"Jika saja bangsa Eropa tiba dalam jumlah besar di masa Musa memerintah, dengan Mali yang tengah berada di puncak kejayaannya dengan pasukan militer dan kekuatan ekonomi dibandingkan kondisi ratusan tahun setelahnya, pasti semuanya tidak akan seperti yang kita lihat saat ini," ujar Ware.

Tersangka Pembunuh Kim Jong Nam;Siti Aisyah Bebas Saat Ulang Tahun

Siti Aisyah, perempuan WNI yang dituduh membunuh Kim Jong-namsaudara tiri Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un —dibebaskan setelah dakwaan terhadapnya dicabut. Saat berbicara setelah pembebasannya, Siti mengaku "tidak menyangka". "Perasaan saya sangat bahagia, nggaknyangka hari ini hari kebebasan saya," 

ujarnya, sembari menambahkan bahwa dirinya akan bertemu keluarga setibanya di Indonesia.
Gambar mungkin berisi: 1 orang, tersenyum, dekat
Siti Aisyah
Ketika ditanya kondisinya, Siti mengatakan "sehat-sehat".
"Pelayanan daripada penjara pun bagus, tak ada apapun yang ditekankan, Semua mensupport, membagi sokongan."
Kim Jong-namHak atas fotoAFP/GETTY IMAGES
Image captionKim Jong-nam, saat difoto pada 2001 silam, merupakan kakak tiri Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un
Dalam pernyataan tertulis, Lalu Muhammad Iqbal selaku Direktur Perlindungan WNI dari Kementerian Luar Negeri RI memaparkan putusan hakim terhadap Siti Aisyah.
"Alhamdulillah di persidangan yang baru saja berlangsung, Jaksa Penuntut Umum telah menyatakan 'menghentikan tuntutan terhadap Siti Aisyah'.
"Pengacara meminta agar bukan hanya dihentikan tapi dibebaskan penuh. Namun Hakim memutuskan "Discharge Not Amounting to Acquital" (tuntutan dihentikan dan Siti Aisyah bebas). KBRI langsung membawa SA ke KBRI. Segera setelah administrasi pemulangan selesai, SA akan dipulangkan," sebut Lalu.
Keterangan ini sejalan dengan pernyataan Hakim Azmin Ariffin di Pengadilan Shah Alam yang menyetujui permintaan jaksa untuk mengugurkan dakwaan terhadap Siti Aisyah, sebagaimana dilaporkan kantor berita AFP.
"Dia dapat bebas sekarang," ujar hakim.
Dalam permintaan untuk mengugurkan dakwaan, jaksa Muhammad Iskandar Ahmad tidak mencantumkan alasan mengapa dirinya mengajukan permintaan tersebut. Dia hanya mengatakan Siti Aisyah dapat bebas meninggalkan Malaysia.
Namun, pembebasan itu tidak berlaku untuk warga Vietnam, Doan Thi Hiong, yang juga dituduh membunuh Kim Jong-nam.
"Dakwaan terhadap Siti ditarik, tapi dakwaan terhadap Doan tidak. Tiada alasan yang dikemukakan. Kami tidak tahyu atas dasar apa dakwaan ditarik," kata pengacara Doan, Hisyam Teh, sebagaimana dikutip kantor berita Reuters.
Doan Thi Huong dan Siti AisyahHak atas fotoREUTERS/AFP
Image captionDoan Thi Huong (kiri) dan Siti Aisyah (kanan) mengklaim dijebak oleh agen-agen Korea Utara.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Armanatha Nasir, mengatakan, pembebasan Siti Aisyah merupakan buah dari kerja keras pemerintah Indonesia.
"Bebasnya Siti Aisyah ini adalah suatu proses panjang dari upaya negara kita untuk membebaskan Siti Aisyah dari hukuman mati," ujar Armanatha di Jakarta, Senin (11/3).
"Sebab sejak Siti Aisyah ditangkap, Bapak Presiden meminta dilakukannya koordinasi erat antara Menteri Luar Negeri, Menteri Hukum dan HAM, Kapolri, Jaksa Agung dan Kepala BIN," sambungnya.
Siti dan Doan Thi Huong, dituduh membunuh Kim Jong-nam dengan mengusapkan zat beracun VX pada wajah cucu pendiri Korea Utara itu saat dia tengah menunggu pesawat di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Februari 2017 lalu.
Siti dan Doan sejak awal mengatakan bahwa mereka dijebak untuk melakukan pembunuhan itu, karena setahu mereka hal itu sekadar lucu-lucuan untuk acara kelakar di televisi.
Untuk acara tersebut, mereka mengaku dibayar orang yang 'mirip orang Jepang atau Korea,' sebesar RM400, atau sekitar Rp1,2 juta.
Para agen rahasia Korea Utara diduga memperdaya kedua perempuan itu untuk melancarkan serangan yang menghebohkan dunia itu. Sejauh ini Pyongyang menyangkal keterlibatan mereka.
Selain Siti dan Doan, terdapat empat warga Korea Utara yang diyakini terlibat. Kepolisian Malaysia berupaya melacak mereka, namun mereka diduga telah melarikan diri dari Malaysia sesaat setelah pembunuhan berlangsung.
sumber:  https://www.bbc.com/indonesia/dunia-47519881