Kamis, 06 April 2017

KAPAL INDUK SUPER CANGGIH AS

USS Gerald R Ford, kapal induk seharga 13 miliar dolar AS

 | 1.046 Views
Oleh 

" ... kita harus menyediakan pria dan wanita dari militer AS dengan alat yang mereka butuhkan untuk mencegah perang." 
USS Gerald R Ford, kapal induk seharga 13 miliar dolar AS
USS Gerald R Ford. (YouTube.com)
Jakarta (ANTARA News) - Tahun 2017 ini akan menjadi masa istimewa bagi Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) lantaran memiliki kapal induk generasi tercanggih-terkini mereka dari kelas Ford, yaitu USS Gerald R. Ford, yang mengambil nama presiden ke-38 Negeri Paman Sam periode 1974-1977. 

USS Gerald R Ford digadang-gadang berkode nomenklatur CVN-78, yang dimasukkan ke dalam kategori supercarrier, yang dibangun untuk menggantikan USS Enterprise (CVN-65), salah satu kapal induk dari kelas Nimitz. 

Kapal induk USS Gerald R. Ford satu kelas dengan USS John F Kennedy (CVN-79) yang akan diluncurkan pada 2020 menggantikan USS Nimitz (CVN-68), dan sama-sama dibangun Newport News Shipbuilding, Virginia, Amerika Serikat. Masih ada lagi USS Enterprise (CVN-80) yang akan diluncurkan pada 2023 menggantikan USS Dwight Eisenhower (CVN-69). 

Dengan bobot mati lebih dari 100.000 ton, kapal induk itu berukuran panjang 337 meter, setinggi 76 meter, dengan 12 meter hingga maksimal 41 meter dari angka itu ada di bawah permukaan air. Dari dek paling bawah hingga paling tinggi, ada 25 dek yang terdapat di USS Gerald R Ford ini. 

Dia ditenagai dua reaktor nuklir A1B buatan Bechtel Corporation, sebagai ganti dari A4W yang juga dibangun perusahaan yang sama untuk kelas Nimitz. 

Kapal induk kelas Nimitz sangat kondang, di antara jajaran ini adalah USS Nimitz (CVN-68), USS Dwight D Eisenhower (CVN-69), USS Carl Vinson (CVN-70), USS Theodore Roosevelt (CVN-71), dan USS Abraham Lincoln (CVN-72), USS John C Stennis (CVN-73), hingga USS Goerge HW Bush (CVN-77).

Secara teknis, tenaga dari dua reaktor nuklir A1B itu disalurkan ke empat baling-baling yang mampu mendorong kapal perang itu hingga ke kecepatan maksimal 30 knot per jam (56 km/jam) dengan waktu operasional hingga 50 tahun tanpa ganti bahan bakar.

Presiden AS Donald Trump bahkan memanfaatkan USS Gerald R. Ford sebagai ajang mempromosikan rencananya untuk memperkuat alat utama sistem persenjataan (alutsista) negerinya.

Pihak Gedung Putih mempromosikan pentingnya alutsista secanggih USS Gerald R. Ford, selain menambah 54 miliar dolar AS untuk anggaran yang diproyeksikan ke Kementerian Pertahanan (Pentagon) atau ada peningkatan 10 persen dibanding pagu anggaran tahun sebelumnya.

"Untuk menjaga Amerika aman, kita harus menyediakan pria dan wanita dari militer AS dengan alat yang mereka butuhkan untuk mencegah perang. Jika mereka harus, maka mereka harus pula berjuang dan mereka hanya harus menang," kata Trump dalam pidatonya di USS Gerald R. Ford pada 2 Maret 2017.

USS Gerald R. Ford menjadi kapal induk yang mengakomodasi sekira 2.600 pelaut, dan bertugas resmi akhir tahun ini.


Jika tiap komandan kapal memiliki waktu berdinas di kapal perang itu dua tahun, maka kapal induk itu akan menjadi kantor bagi 25 orang komandan dalam sekali pengisian bahan bakar. 

Kapal induk bukan ditujukan untuk langsung menyerang sasaran atau target mengandalkan persenjataan yang ada di dalam tubuhnya, melainkan oleh pesawat-pesawat tempur dalam wing udara yang ada di dalam dek hanggarnya. 

Disebutkan oleh berbagai sumber, semula armada Joint Strike Fighter F-35C Lighting II dari Lockheed Martin akan mengisi hanggar-hanggar itu, namun keterlambatan jadwal penyelesaian F-35 serie ini berpengaruh langsung pada integrasi sistem dan operasinya dengan USS Gerald R Ford (CVN-78). 

Untuk saat ini, daftar pesawat tempur yang paling masuk akal untuk ditempatkan di geladak dan landas pacunya adalah Boeing F/A-18 Super Hornet, Boeing EA-18G Growler, Grumman C-2 Greyhound (transport ringan), Northrop Grumman E-2 Hawk Eye (pesawat intai-komando-peringatan dini), helikopter Sikorsky SH-60 Sea Hawk, dan pesawat tempur tanpa awak Northrop Grumman X-47B. 

Landas pacu sepanjang 330 meter akan siap melontarkan dan menahan jajaran pesawat tempur hingga pesawat transpor yang datang dan pergi, juga pesawat tanpa awak bersenjata lengkap. 

Ada beberapa pembeda yang menjadi batu lompatan teknologi kapal induk kelas Ford dengan kelas Nimitz yang dia gantikan. Di antara yang penting adalah teknologi mesin pelontar pesawat terbang, yang dinamakan Electromagnetic Aircraft Launch System alias EMALS. 

Sistem ini disebut lebih efisien, berukuran lebih kompak, lebih kuat, dan lebih mudah dikendalikan-dioperarikan. Dia akan lebih mampu melontarkan pesawat terbang yang lebih besar atau lebih kecil dari yang kini ada, yang selama ini digerakkan sistem katapel berbasis uap. 

Hal ini akan menambah usia operasi pesawat terbang karena resiko hentakan yang kuat bisa dihindarkan. Sistem EMALS ini diujicobakan pertama kali pada Juni 2014 dalam percobaan hingga 450 kali lontaran pada berbagai tipe dan kelas pesawat tempur sayap tetap, mulai dari F-A-18 Super Hornet, T-45C Goshawk, C-2A Greyhound, E-2D Advanced Hawk Eye, hingga F-35C Lighting II. 

Secara prinsip kerja, EMALS memakai motor induksi linier yang mendayagunakan arus untuk menciptakan medan magnet yang akan menggerakkan pelontar pada rel yang membentang di landas pacu. 

Hitungan yang terbukti, rel sepanjang 91 meter mampu melontarkan beban hingga 45 ton hingga kecepatan 240 kilometer perjam. Ini masih ditambah dengan daya dari mesin pesawat terbang itu sendiri yang di-set pada kekuatan maksimal. 

Sebaliknya saat pesawat terbang itu mendarat maka menjadi tugas dari sistem Advanced Arresting Gear, yang mengandalkan sistem hidrolik. Dibandingkan dengan sistem serupa yang telah dioperasikan dengan berbagai pengembangannya selama 50 tahun terakhir maka AAG menggunakan medan elektromagnetik untuk menyerap energi yang dikendalikan mesin pesawat terbang. 

Sistem AAG ini akan menghentikan gerak laju pesawat terbang secara lebih halus dan aman; ujung-ujungnya, usia operasional pesawat terbang militer bisa lebih panjang lagi. AAG juga dikatakan memerlukan biaya perawatan-pemeliharaan lebih rendah dan pengawak lebih sedikit. Dibandingkan dengan kapal induk kelas Nimitz, maka kelas Ford memerlukan “hanya” 508 perwira dan 3.789 personel. 

Adapun sistem pertahanan diri, USS Gerald R Ford (CVN-78) mengandalkan peluru kendali anti serangan pesawat tempur, 2 unit RIM-162 ESSM dari Raytheon, dua unit RIM-116 RAM (juga dari Raytheon dan kolaborasi dengan Ramsys GmbH, Jerman), tiga unit Phalanx (sistem untuk close-in weapons system), empat unit senapan mesin M2 kaliber 12,7 milimeter. 

Yang juga baru dan canggih adalah sensor radar berteknologi AESA (active electronically scanned array search and tracking radar system), dual-band radar yang diambil dari teknologi yang dibenamkan di kapal penghancur (destroyer) berpeluru kendali kelas Zumwalt dari Raytheon. 

DBR ini beroperasi dengan memadukan radar X-band AN/SPY-3 multifungsi dan emiter S-band Volume Search Radar, yang disebarkan melalui perangkat phased array. Tiga perangkat pada X-band bertanggung jawab pada pengendusan berketinggian rendah dan iluminasi radar, dan tiga yang lain pada S-band mengurusi pencarian dan penjejakan sasaran ketimbang cuaca. 

Hal menarik, rancang-bangun kapal induk kelas Ford ini memakai teknologi pesawat tempur CATIA V5 release 8 dari Dassault Systeme, Prancis. Rancangan dan perencanaan konstruksi kapal induk ini bisa dilakukan secara lebih efisien dan presisi, dan modelnya bisa dibangun dalam skala penuh. 

Artinya, USS Gerald R Ford (CVN-78) itulah yang pertama kali modelnya dibuat dalam skala penuh sehingga galangan kapal pembangun bisa membuatnya secara moduler, pun pengembangannya demikian jika diperlukan.


Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2017

=====

TENTUKAN PILIHAN ANDA
STOCK DAN WAKTU TERBATAS

Minat chat yaa
 inbox fb atau 
BBM 5D34A253 n 
wa 081363563800.. 
happy shopping..
tq dear

Minat chat yaa
 inbox fb atau 
BBM 5D34A253 n 
wa 081363563800.. 
happy shopping..
tq dear

Minat chat yaa inbox fb atau BBM 5D34A253 n wa 081363563800.. happy shopping..tq dear

Minat chat yaa inbox fb atau BBM 5D34A253 n wa 081363563800.. happy shopping..tq dear

AneLLo Shopping Tote.Series 0208 * Price IDR 215rb*Measurement 32c27 cm....


AneLLo Shopping Tote.Series 0208 * Price IDR 215rb*Measurement 32c27 cm...


Rabu, 05 April 2017

Laba-Laba Berbisa


'Spider bite' double amputation likely to be mistaken identity, experts say


Media outlets reported both legs were amputated because of the progression of ‘flesh-eating bacteria’ induced by a white-tail spider bite.
Media outlets reported both legs were amputated because of the progression of ‘flesh-eating bacteria’ induced by a white-tail spider bite. Photograph: Jeff Wright/Queensland Museum

White-tail spider unlikely to be responsible for necrotising skin infection that led to amputation of Filipino tourist’s legs

=====

A Melbourne man’s double amputation is likely to have been misattributed to a white-tail spider bite.
The family of Terry Pareja, a Filipino tourist, say he may have been bitten by a white-tailed spider while visiting relatives in Birchip in regional Victoria in late February.
He underwent emergency surgery at Wimmera Base hospital in Horsham, Victoria, to have his right leg amputated on 27 February. He was then airlifted to the Alfred hospital in Melbourne the following morning, where his left leg was amputated.
Pareja’s case had not been widely known until Wednesday, when Fairfax Media reported that the double amputation was necessary owing to the progression of “flesh-eating bacteria” induced by a white-tail spider bite.
His brother-in-law, Ray Ogleby, told 3AW on Wednesday that a toxicology report pointed to a “possible spider bite”.


Two species of white-tail are common in southern and eastern Australia. Their venom is widely purported to cause ulceration and necrotic lesions for which there is no treatment but there is no evidence to support this.
A cohort study published in August 2003 investigated 130 cases of confirmed white-tail spider bites between February 1999 and April 2002 and found that none had resulted in necrotic lesions.
“This provides good evidence that necrotic ulcers are unlikely to be a result of white-tail spider bite, and previously reported cases are more likely a result of misattribution,” concluded the authors, Geoffrey Isbister and Michael Gray.
The venom had “little potential” to cause necrosis, the researchers found, pointing to another study that had concluded it had “little effect on human cell cultures”.
Isbister, a researcher at the University of Newcastle, told Australian Associated Press on Wednesday that cases were often misattributed to spiders in the absence of a clear, alternative diagnosis.
“It’s all about people wanting to be able to label what they have – much better that a spider did this, rather than ‘we are not sure’,” he said.
The reporting of Pareja’s case proved the link between necrosis and white-tail spider bites persisted, even though, as the Queensland Museum arachnologist Robert Raven pointed out to Guardian Australia, “the refutation is now over 10 years old”.
“It’s really quite disturbing to see that this stuff has been reborn,” he said, adding: “For a long time, even at the height of the issue, we said, this is not the spider that’s doing the damage.”
A spokeswoman for Wimmera Base hospital told Guardian Australia that Pareja had undergone an amputation there for a “necrotising skin infection”. A spokeswoman for the Alfred hospital said he was in a serious but stable condition but would not comment on the diagnosis.
Pareja’s daughter has launched a crowdfunding campaign to cover her father’s medical costs.
“An insect bit him but he really wasn’t aware, not until he felt uneasy,” she wrote. “Few hours later, his foot began to hurt and then swell eventually …
“Doctors think it was a white-tailed spider that bit him.”
According to his daughter, Pareja could face double amputation of both arms.


In many cases of bites attributed to white-tail spiders the patient did not see a spider nor feel a bite, Raven said.
“This is the problem with a lot of these cases: what we get is: ‘Did you see the spider?’ ‘No.’ ‘Did you feel it bite?’ ‘No.’ ‘Then how did you know you were bitten?’ ‘Because a doctor told me.’”
There was, in fact, no way for doctors to diagnose bites from any species of spider other than redbacks and funnel-webs, he said.
A 2004 study had found that 11 cases of necrotic ulcers misattributed to white-tail spider bites between January 2000 and June 2002 “were found to have alternative diagnoses with appropriate investigations”. There was a range of final diagnoses, including an infected diabetic ulcer, a staphylococcal abscess and various skin infections such as tinea.
Not only did no species of Australian spider have necrotic venom, said Raven, white-tail spiders’ mouths were too small to penetrate human skin.
“The thing we’ve said over and over again is that spiders don’t have necrotic venom. You imagine what it is: a spider bites you, and it’s going to follow you until you die? No. It needs to bring the animal down quickly.”
Raven said on the ABC just last week the reported impact of whitetail spiders was a “total furphy”, attributing the persistence of the misinformation as a case of “let’s not let the truth get in the way of a good story”.
“The litany of things that were attributed to white-tail spiders was absolutely horrendous.”
Topics

Selasa, 04 April 2017

Sukses Menulis Karena Marah dan Dendam

Sukses Menulis Karena Marah dan Dendam Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Pernahkah Anda merasa diperlakukan dengan tidak adil sehingga harus marah dan dendam? Saat bos kita di kantor memberikan perhatian kepada teman kerja lain dan menyepelekan kehadiran kita akan membakar kita untuk marah. Demikian juga kalau kita merasa diperlakukan tidak adil di dalam pembagian kerja dan pembagian honor. Rasanya pingin marah. Marah yang tidak henti-hentinya akan menimbulkan dendam. Banyak sekali alasan untuk membuat kita marah dan dendam. Istri yang tidak memahami apa yang kita maui akan memancing marah. Anak-anak kita yang nakal juga memancing marah. Itu memang manusiawi. Tapi harus kita ingat, marah dan dendam akan menguras energi. Kita akan capai sendiri karenanya. Padahal sudah dapat dipastikan bahwa marah bukanlah solusi untuk mengatasi masalah apapun.

Tapi marah kan manusiawi? Iya betul. Siapa sih yang tidak pernah marah? Marah adalah suatu bentuk mencari keseimbangan. Marah yang terlampiaskan biasanya akan meredakan amarah itu sendiri. Marah mambuat kita tegang. Saat marah, energi negatif ada pada diri kita. Melampiaskan marah seperti halnya membuang energi negatif. Begitu energi negatif berhasil kita buang, berkuranglah stok energi negatif pada diri kita. Sehingga kita bisa menjadi kembali seimbang. Kalau demikian setiap kali marah langsung saja kita
... baca selengkapnya di Sukses Menulis Karena Marah dan Dendam Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1